Pesta Olahraga Persemakmuran 2026: Edisi Hemat yang Menentukan Nasib
Baca dalam 60 detik
- Glasgow menjadi tuan rumah darurat Commonwealth Games 2026 dengan format lebih kecil dan biaya hanya £160 juta, menyusul mundurnya Victoria, Australia.
- Jumlah atlet berkurang 2.000 orang dan hanya 10 cabang olahraga dipertandingkan, namun penyelenggara menyebut model ini sebagai cetak biru keberlanjutan masa depan.
- Ketidakhadiran atlet bintang seperti Keely Hodgkinson dan hilangnya siaran televisi gratis di Inggris menjadi ujian besar bagi relevansi ajang 96 tahun ini.

Glasgow akan menjadi panggung Commonwealth Games edisi paling kontroversial dalam sejarah 96 tahun ajang ini ketika pembukaan digelar Kamis ini. Dengan jumlah atlet yang menyusut drastis dan hanya sepuluh cabang olahraga yang dipertandingkan, pertanyaan besar menggantung: apakah ini awal dari kebangkitan baru atau justru lagu perpisahan?
Krisis dimulai pada 2023 ketika Victoria, Australia, secara mengejutkan mundur sebagai tuan rumah karena lonjakan biaya yang tak terkendali. Keputusan itu mengguncang Commonwealth Sport Federation dan membuat masa depan pesta olahraga negara-negara Persemakmuran ini tidak menentu. Setelah lebih dari setahun kebuntuan, Glasgow—yang sukses besar menjadi tuan rumah pada 2014—akhirnya tampil sebagai penyelamat dengan waktu persiapan yang sangat terbatas.
Konsekuensinya, edisi 2026 hadir dalam format yang jauh lebih ramping. Jika pada 2014 terdapat 18 cabang olahraga dan 20 cabang pada 2022 di Birmingham, kali ini hanya 10 cabang yang dipertandingkan. Jumlah atlet diperkirakan berkurang sekitar 2.000 orang, dan tidak ada satu pun stadion baru yang dibangun. Atletik, misalnya, dipindahkan dari Hampden Park berkapasitas 46.000 kursi ke Scotstoun Stadium yang hanya mampu menampung 10.000 penonton.
Di balik keterbatasan itu, para penyelenggara justru melihat peluang. Katie Sadleir, CEO Commonwealth Sport, menyatakan bahwa situasi ini memaksa mereka untuk melakukan evaluasi ulang secara fundamental. "Kami tidak pernah sekuat ini," ujarnya. "Kami menatap diri sendiri dengan jujur dan menyadari perlunya mengatur ulang dan membayangkan ulang pesta olahraga ini agar menjadi proposisi yang menarik bagi anggota." Ia menekankan bahwa model yang lebih kecil, murah, dan berkelanjutan adalah kunci agar Commonwealth Games tetap relevan.
Namun, edisi Glasgow dihantui oleh absennya sejumlah nama besar. Cedera memang tak terhindarkan—seperti yang dialami pesenam Max Whitlock dan perenang Australia Kaylee McKeown. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah keputusan atlet untuk memprioritaskan ajang lain. Juara Olimpiade 800 meter Keely Hodgkinson memilih Kejuaraan Atletik Eropa yang dimulai 10 Agustus di Birmingham, sementara pelari tercepat Inggris Dina Asher-Smith hanya turun di nomor estafet. Perenang Kanada Summer McIntosh dan juara Olimpiade 100 meter Julien Alfred dari St. Lucia juga memilih absen.
Di sisi lain, beberapa bintang justru akan tampil. Josh Kerr, pemecah rekor dunia mil, akan berlomba di hadapan publik sendiri mewakili Skotlandia. Katerina Johnson-Thompson memburu gelar ketiga heptathlon berturut-turut, dan Adam Peaty kembali ke kolam yang sama tempat ia merebut dua emas pada 2014. Bagi cabang seperti netball dan para-olahraga, Commonwealth Games tetap menjadi puncak karier. Perenang Paralimpiade Brock Whiston menekankan bahwa tanpa ajang ini, negara-negara kecil kehilangan panggung untuk menunjukkan kekuatan integrasi olahraga.
Dari sisi penonton, antusiasme publik menjadi ujian lain. Pada 2014, 1,3 juta tiket terjual—angka yang mustahil terulang. Penjualan terkuat terjadi untuk atletik dan balap sepeda, tetapi tiket masih tersedia untuk semua cabang selama 11 hari kompetisi. Lebih krusial lagi, untuk pertama kalinya dalam 18 edisi, BBC tidak lagi menjadi pemancar langsung. Hak siar televisi kini dipegang TNT Sports, yang berarti tidak ada siaran langsung gratis di televisi. BBC Radio 5 Live masih menyiarkan, tetapi ketiadaan tayangan gratis membuat penetrasi ke publik umum jauh lebih sulit.
Bagi Indonesia, meski tidak berpartisipasi secara langsung, nasib Commonwealth Games memiliki implikasi tersendiri. Ajang ini kerap menjadi barometer bagi negara-negara berkembang untuk mengukur prestasi olahraga di kancah multi-olahraga. Model hemat yang diusung Glasgow—tanpa stadion baru dan dengan biaya rendah—bisa menjadi referensi bagi Indonesia jika ingin menyelenggarakan event internasional serupa di masa depan, terutama setelah pengalaman PON dan Asian Games. Keberhasilan atau kegagalan edisi 2026 akan menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah pesta olahraga dapat bertahan tanpa harus membebani anggaran negara.
Dengan tuan rumah 2030 sudah diamankan di Ahmedabad, India, dan beberapa negara seperti Selandia Baru serta Nigeria menyatakan minat untuk 2034, masa depan Commonwealth Games masih memiliki pijakan. Namun, 11 hari ke depan di Glasgow akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah publik masih peduli, apakah atlet masih menganggapnya bergengsi, dan apakah model baru ini cukup untuk meyakinkan calon tuan rumah berikutnya. Pertanyaan yang tak kalah penting: bisakah sebuah tradisi 96 tahun bertahan tanpa kemegahan yang dulu menjadi ciri khasnya?



