Setelah Gagal Dapatkan Morgan Rogers, Tottenham Beralih ke Marcus Rashford
Baca dalam 60 detik
- Chelsea mengamankan Morgan Rogers dengan biaya £117 juta, memaksa Tottenham mencari alternatif di lini serang.
- Marcus Rashford, yang tengah dalam masa pinjaman di Barcelona, menjadi target utama Spurs dengan banderol sekitar £40 juta.
- Rekor gol dan assist Rashford di Premier League dan Eropa jauh melampaui Rogers, menjadikannya opsi yang lebih matang secara pengalaman.

Tottenham Hotspur tampaknya harus mengalihkan incaran utama mereka di bursa transfer setelah Chelsea sukses membajak Morgan Rogers dari Aston Villa dengan mahar fantastis £117 juta. Klub asal London utara itu kini disebut-sebut tengah menyusun strategi untuk mendatangkan Marcus Rashford, pemain sayap Manchester United yang baru saja menjalani masa peminjaman di Barcelona.
Kegagalan Spurs mendatangkan Rogers menjadi pukulan telak, mengingat pemain berusia 23 tahun itu sempat menjadi target utama sejak musim lalu. Menurut jurnalis transfer Fabrizio Romano, Tottenham telah lama memantau perkembangan Rogers, namun Villa tidak pernah berniat melepasnya. Keputusan Unai Emery mempertahankan Rogers terbukti tepat setelah sang pemain membawa timnya meraih gelar Liga Europa dan finis di lima besar Premier League.
Dengan kepergian Rogers ke Stamford Bridge, Spurs harus memutar otak. Pasar pemain sayap musim panas ini mengalami inflasi harga yang luar biasa. Bournemouth misalnya, membanderol Eli Junior Kroupi dengan harga di atas £90 juta meski baru semusim berlaga di Premier League. Situasi ini mendorong manajemen ENIC, pemilik Tottenham, untuk melirik opsi yang lebih terjangkau dan berpengalaman.
Nama Marcus Rashford pun kembali mencuat. The i Paper melaporkan bahwa Spurs sempat bersiap mengajukan tawaran £40 juta untuk pemain berusia 28 tahun itu sebelum klausul pelepasannya kedaluwarsa. Baik Arsenal maupun Chelsea juga dikabarkan memantau situasi Rashford, namun Tottenham disebut paling serius. Alih-alih meminjam, Spurs lebih memilih membeli secara langsung.
Rashford menghabiskan 18 bulan terakhir dengan status pinjaman di Barcelona setelah tersingkir dari skuad utama Manchester United. Meski tidak selalu menjadi starter reguler di bawah Hansi Flick, ia tetap mencatatkan 28 gol dan assist di semua kompetisi musim lalu—lebih baik dari catatan Rogers yang hanya 26 kontribusi gol di Villa Park. Di pentas Premier League, Rashford telah mengoleksi 89 gol dalam 297 pertandingan, sementara Rogers baru mencetak 21 gol dari 85 laga.
Perbandingan statistik itu menunjukkan betapa berbedanya level pengalaman kedua pemain. Rashford, yang oleh rekan setimnya Anthony Gordon disebut sebagai "salah satu pemain terbaik di dunia", telah malang melintang selama satu dekade di level tertinggi. Ia debut di Manchester United pada 2016 dan langsung menjadi fenomena remaja. Sementara itu, Rogers baru benar-benar menembus elite sepak bola Inggris pada Januari 2024, setelah dilepas Manchester City dengan harga hanya £1 juta.
Keputusan Tottenham untuk mengejar Rashford bukannya tanpa risiko. Pemain asal Inggris itu sempat mengalami periode sulit di Old Trafford, termasuk ketidakcocokan dengan manajer sebelumnya. Namun, kembalinya Michael Carrick sebagai pelatih kepala United membuka peluang rekonsiliasi. Meski begitu, belum ada kepastian apakah Rashford akan diintegrasikan kembali ke skuad utama Setan Merah.
Dari sisi bisnis, langkah ini bisa menjadi kejutan besar bagi ENIC. Rashford masih memiliki nilai komersial tinggi dan basis penggemar global. Jika berhasil didatangkan dengan harga sekitar £40 juta, Spurs bisa mendapatkan pemain dengan rasio harga-kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan Rogers yang dibanderol tiga kali lipat lebih mahal.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik untuk diikuti. Tottenham, yang memiliki basis suporter cukup besar di Tanah Air, tengah membangun kembali skuad di bawah Roberto De Zerbi. Kehadiran Rashford bisa menjadi daya tarik tambahan, terutama jika ia mampu mengembalikan performa terbaiknya. Pertanyaan besarnya: mampukah Rashford bangkit dari keterpurukan dan menjadi bintang baru di London utara?



