Ekonomi Jepang Berpotensi Catat Rekor Ekspansi Terpanjang Pascaperang, tapi Rumah Tangga Masih Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang diperkirakan akan mempertahankan pandangan pemulihan ekonomi moderat pada Juli, membuka peluang melampaui rekor ekspansi 73 bulan berturut-turut pascaperang.
- Meskipun konsumsi, investasi, dan ekspor menunjukkan kekuatan, rumah tangga masih berjuang melawan biaya hidup yang tinggi dan ketidakpastian upah riil.
- Rekor ekspansi baru akan diverifikasi secara retrospektif oleh panel ahli, namun pejabat mengakui bahwa manfaat pertumbuhan belum dirasakan merata oleh masyarakat.

Pemerintah Jepang kemungkinan besar akan mempertahankan penilaian bahwa perekonomian nasional tengah pulih secara moderat dalam laporan bulanannya untuk Juli, sebuah langkah yang secara tidak langsung mengindikasikan bahwa periode ekspansi saat ini berpotensi melampaui rekor pascaperang selama 73 bulan berturut-turut. Namun, di balik optimisme makro tersebut, rumah tangga Jepang masih bergulat dengan tekanan biaya hidup yang kian meninggi.
Menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, penilaian pemerintah akan menekankan bahwa konsumsi pribadiโyang menyumbang sekitar setengah dari produk domestik bruto (PDB)โtetap solid, didorong oleh kenaikan upah baru-baru ini serta subsidi pemerintah untuk mengatasi inflasi. Investasi modal oleh perusahaan dan output industri juga menunjukkan kinerja kuat berkat adopsi kecerdasan buatan (AI), sementara ekspor didukung oleh permintaan mobil yang tinggi di Amerika Serikat.
Namun, pencapaian rekor ini datang di tengah keresahan publik. Dalam pedoman kebijakan ekonomi dan fiskal pertama yang disetujui Kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Selasa lalu, pemerintah mengakui perlunya memastikan bahwa "setiap orang di Jepang benar-benar dapat merasakan bahwa 'perekonomian sedang membaik'." Pernyataan ini mencerminkan kesenjangan antara data makro dan realitas keseharian warga.
Ekspansi ekonomi saat ini dimulai sejak titik terendah pada Mei 2020, saat pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas global. Sejak itu, PDB Jepang terus tumbuh meskipun dihantam dampak invasi Rusia ke Ukraina dan kebijakan tarif tinggi era Presiden AS Donald Trump. Jika tren ini berlanjut, Jepang akan melampaui rekor ekspansi sebelumnya yang berlangsung dari Februari 2002 hingga Februari 2008.
Meski demikian, verifikasi resmi mengenai panjangnya periode ekspansi baru akan dilakukan secara retrospektif oleh panel ekonom dan pakar di Kantor Kabinet. Menteri Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Jepang, Minoru Kiuchi, dalam konferensi pers Juni lalu hanya menyatakan bahwa "diperlukan waktu untuk mengumpulkan data yang diperlukan dan melakukan diskusi."
Seorang sumber di Kantor Kabinet menyampaikan keraguan yang lebih gamblang: "Sulit untuk benar-benar bahagia di saat belum pasti apakah upah riil yang disesuaikan dengan inflasi akan terus naik dan situasi di Timur Tengah masih tidak menentu." Pernyataan ini menggarisbawahi risiko eksternal dan domestik yang dapat menggerogoti optimisme.
Bagi Indonesia, perkembangan ekonomi Jepang memiliki implikasi strategis. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di Indonesia. Ekspansi ekonomi Jepang yang berkelanjutan berarti potensi peningkatan permintaan terhadap komoditas dan produk manufaktur Indonesia, serta aliran investasi langsung yang lebih besar. Namun, jika tekanan biaya hidup di Jepang terus berlanjut, hal ini dapat membatasi konsumsi dan impor dari negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, kebijakan moneter Bank of Japan yang mungkin berubah seiring pemulihan ekonomi juga perlu dicermati karena dapat mempengaruhi arus modal ke Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah pertumbuhan ekonomi Jepang yang didorong oleh ekspor dan investasi AI dapat bertahan di tengah ketidakpastian upah riil dan stabilitas kawasan. Tanpa perbaikan nyata pada daya beli rumah tangga, rekor ekspansi mungkin hanya menjadi angka statistik yang tidak mencerminkan kesejahteraan rakyat.



