QRIS Segera Tembus Pasar Arab Saudi, India, dan Hong Kong: BI Perkuat Ekosistem Pembayaran Lintas Negara
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia memperluas jangkauan QRIS ke Arab Saudi, India, dan Hong Kong setelah sukses di enam negara Asia.
- Transaksi QRIS antarnegara mencatat net inbound Rp 1,52 triliun pada kuartal II 2026, didominasi oleh pemasukan dari luar negeri.
- Implementasi kerja sama masih menunggu kesiapan regulasi, infrastruktur, dan industri di masing-masing negara mitra.

Bank Indonesia (BI) tidak hanya puas dengan pencapaian QRIS di enam negara Asia. Kini, otoritas moneter tersebut mengarahkan radar ekspansi ke tiga pasar strategis baru: Arab Saudi, India, dan Hong Kong. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa sistem pembayaran nasional terus berupaya menembus batas geografis, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam arus transaksi keuangan global.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengungkapkan, diskusi teknis dengan otoritas di ketiga negara tengah berlangsung intensif. โKita saat ini terus melanjutkan diskusi dengan India untuk crossborder, dan kita juga sudah memulai diskusi secara mendalam dengan Saudi Arabia dan juga dengan Hong Kong,โ ujarnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/7/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa BI tidak hanya menjajaki, tetapi sudah memasuki tahap perundingan yang lebih konkret.
Selama ini, layanan QRIS lintas negara baru dapat dinikmati di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Penambahan Arab Saudi dan India menjadi langkah strategis mengingat kedua negara memiliki jumlah diaspora dan wisatawan Indonesia yang besar. Hong Kong, dengan statusnya sebagai pusat keuangan global, juga dinilai potensial untuk memperluas ekosistem pembayaran digital Indonesia.
Meski demikian, Filianingsih enggan mematok tenggat waktu pasti. Ia menekankan bahwa kesepakatan baru bisa terwujud setelah semua pihak siap. โMemang untuk implementasinya kita harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, tentunya kesiapan regulasi, infrastruktur, industri, dan juga koordinasi dengan otoritasnya,โ terangnya. Artinya, proses ini membutuhkan waktu dan negosiasi yang matang.
Capaian transaksi QRIS antarnegara pada kuartal II 2026 menunjukkan tren positif. Secara net inbound, nilai transaksi mencapai Rp 1,52 triliun, dengan rincian transaksi inbound sebesar Rp 1,85 triliun dan outbound sekitar Rp 330 miliar. Angka ini mengindikasikan bahwa lebih banyak wisatawan asing yang menggunakan QRIS saat berkunjung ke Indonesia dibandingkan sebaliknya. Hal ini menjadi modal berharga bagi BI untuk meyakinkan calon mitra baru bahwa sistem QRIS telah teruji dan diminati.
Bagi masyarakat Indonesia, perluasan kerja sama ini berarti kemudahan bertransaksi saat bepergian ke Arab Saudi, India, atau Hong Kong tanpa perlu repot menukar mata uang asing. Terlebih, Arab Saudi merupakan tujuan utama ibadah umrah dan haji, sementara India dan Hong Kong menjadi destinasi bisnis dan wisata yang populer. Dengan QRIS, pembayaran cukup dilakukan dengan memindai kode dari aplikasi dompet digital yang sudah terdaftar.
Ke depan, keberhasilan ekspansi ini akan bergantung pada harmonisasi regulasi antarnegara dan kesiapan infrastruktur teknologi. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa cepat BI dan otoritas mitra dapat menyelesaikan seluruh aspek teknis dan regulasi? Jika berjalan mulus, bukan tidak mungkin QRIS akan menjadi salah satu alat pembayaran lintas batas yang dominan di kawasan Asia dan Timur Tengah.



