Rekor Baru: 1.319 Guru Sekolah Negeri di Jepang Berhenti karena Gangguan Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Jumlah guru negeri yang meninggalkan profesi akibat masalah kesehatan mental di Jepang mencapai rekor tertinggi pada tahun fiskal 2024, melonjak 1,4 kali lipat dibanding survei tiga tahun sebelumnya.
- Beban kerja administratif yang kian berat, tuntutan menangani kebutuhan siswa yang beragam, serta hubungan interpersonal di tempat kerja diduga menjadi pemicu utama lonjakan ini.
- Fenomena ini menjadi alarm bagi sistem pendidikan global, termasuk Indonesia, di mana kesejahteraan mental guru kerap terabaikan di tengah tekanan reformasi kurikulum dan administrasi.

Angka guru sekolah negeri di Jepang yang mengundurkan diri karena gangguan jiwa mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Sebanyak 1.319 guru sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas memutuskan berhenti pada tahun fiskal 2024, menurut survei terbaru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang yang dirilis pada 22 Juli lalu.
Jumlah ini melonjak sekitar 1,4 kali lipat dibandingkan survei tiga tahun sebelumnya, dan untuk pertama kalinya menembus angka 1.000 orang. Padahal, kementerian telah gencar mendorong reformasi gaya kerja guru, namun hasil survei justru menunjukkan bahwa upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.
Pejabat kementerian mengakui sulit untuk menyimpulkan satu penyebab tunggal, namun mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin berkontribusi: tuntutan menangani kebutuhan siswa yang semakin beragam, hubungan interpersonal di tempat kerja, serta beban administrasi yang terus bertambah. โKami memandang inisiatif kesehatan mental sebagai isu mendesak dan akan terus mengambil langkah-langkah,โ ujar seorang pejabat kementerian.
Tren peningkatan ini sudah berlangsung lama. Pada survei tahun fiskal 2010 โ saat kategori ini pertama kali dimasukkan โ jumlahnya hanya 599 orang. Angka tersebut naik menjadi 950 pada survei tahun fiskal 2022, dan kini melonjak lebih dari dua kali lipat dalam 15 tahun. Sementara itu, jumlah guru yang keluar karena pindah pekerjaan juga meningkat signifikan, dari 4.037 menjadi 5.080 orang. Meskipun angka ini termasuk mutasi ke dewan pendidikan setempat, indikasi menunjukkan semakin banyak guru yang beralih ke sektor lain.
Fenomena ini memiliki implikasi serius bagi sistem pendidikan Jepang. Ketiadaan guru paruh baya (usia 40-an) yang jumlahnya lebih sedikit dibanding kelompok usia lebih muda atau lebih tua menimbulkan kesenjangan regenerasi. Guru senior yang pensiun tidak tergantikan secara memadai, sementara guru muda kekurangan mentor. Kondisi ini diperparah oleh beban kerja yang tidak kunjung membaik, sehingga menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Bagi Indonesia, data ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental guru bukanlah isu sepele. Di tengah dorongan reformasi kurikulum Merdeka Belajar dan digitalisasi administrasi, tekanan terhadap guru di Indonesia juga meningkat. Survei Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kelelahan dan stres menjadi alasan utama guru meninggalkan profesi. Tanpa intervensi serius pada kesejahteraan psikologis guru, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi krisis serupa.
Ke depan, Jepang perlu mengevaluasi efektivitas reformasi kerja yang telah berjalan. Apakah kebijakan pengurangan jam kerja dan pembatasan tugas administratif sudah cukup? Atau justru diperlukan pendekatan yang lebih holistik, seperti penyediaan layanan konseling gratis di sekolah dan pelatihan manajemen stres? Tanpa perubahan mendasar, angka guru yang berhenti karena gangguan jiwa diprediksi akan terus meroket.



