Airlangga Apresiasi BI Tahan Suku Bunga: Sektor Riil dan Kredit Berpeluang Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% setelah tiga bulan berturut-turut menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin.
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai keputusan ini memberikan ruang bagi sektor riil untuk bergerak dan mendorong pertumbuhan kredit.
- BI juga memperluas insentif dan kebijakan lain untuk menarik investasi portofolio asing serta memperkuat stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada Juli 2026, mengakhiri siklus pengetatan moneter yang berlangsung tiga bulan berturut-turut dengan total kenaikan 100 basis poin. Keputusan ini disambut positif oleh pemerintah, yang menilai langkah tersebut dapat menjadi katalis bagi sektor riil dan industri perbankan untuk menggeliat kembali.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara langsung mengapresiasi kebijakan BI tersebut. Menurutnya, suku bunga yang stabil sangat krusial bagi dunia usaha untuk merencanakan ekspansi dan investasi. "Tingkat suku bunga yang dipertahankan itu bisa mendorong pertumbuhan sektor kredit," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (22/7/2026). Pernyataan ini menegaskan optimisme pemerintah bahwa momentum pemulihan ekonomi domestik akan terjaga.
Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kebijakan moneter tetap diarahkan pada keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Bank sentral tidak hanya mempertahankan suku bunga, tetapi juga memperluas insentif untuk menarik investasi portofolio asing dan memperkuat nilai tukar rupiah. "Keputusan ini merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan yang konsisten untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global," kata Perry. Ia menambahkan bahwa kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendorong ekspansi ekonomi.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, keputusan BI ini memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan risiko pelemahan rupiah dapat dikelola. Dengan suku bunga yang tidak naik, biaya pinjaman perbankan diperkirakan tidak akan bertambah mahal, sehingga kredit konsumsi dan investasi berpotensi meningkat. Namun, tantangan tetap ada: ketidakpastian global, terutama dari kebijakan suku bunga bank sentral AS dan gejolak harga komoditas, masih membayangi prospek ekonomi nasional.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada respons sektor riil dan perbankan. Apakah penurunan tekanan suku bunga cukup untuk mendorong ekspansi kredit yang signifikan, atau justru pelaku usaha masih menunggu kepastian lebih lanjut? Pertanyaan ini menjadi kunci dalam mengukur keberhasilan langkah BI dalam menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan di semester kedua 2026.



