Kisah Wawancara Kerja yang Memicu Lahirnya Platform Data Ketimpangan Gender di Asia
Baca dalam 60 detik
- Seorang ibu dua anak gagal dapat pekerjaan karena dianggap tak bisa bepergian, mendorongnya mendirikan Moxy pada 2023.
- Platform ini mengumpulkan pengalaman kerja perempuan secara anonim, dengan data dari hampir 1.000 responden di 168 perusahaan.
- Moxy mendorong perusahaan melakukan perubahan struktural, termasuk pelatihan inklusif dan transparansi promosi.

Sebuah email penolakan kerja yang diterima Khatija Aslam pada 2020 menjadi titik balik. Setelah melalui proses wawancara yang dianggapnya sempurna, ia justru ditolak dengan alasan asumsi sepihak: bahwa seorang ibu dengan dua anak balita tidak mungkin melakukan perjalanan dinas. Pengalaman pahit itu mendorongnya untuk meneliti lebih dalam dan akhirnya meluncurkan Moxy, sebuah platform yang mengumpulkan data pengalaman kerja perempuan di Asia untuk mendorong perubahan sistemik di perusahaan.
Khatija, yang saat itu baru kembali dari cuti melahirkan, mengaku terus terang soal kondisi pribadinya. Namun, tanpa ditanya, pewawancara menyimpulkan bahwa ia tidak cocok dengan tuntutan pekerjaan yang membutuhkan jam kerja panjang dan perjalanan ekstensif. โSaya tidak pernah ditanya apakah saya punya kendala perjalanan. Mereka hanya berasumsi saya tidak bisa,โ kenangnya kepada CNA Women.
Kejadian itu membuat Khatija bertanya-tanya apakah perempuan lain mengalami nasib serupa. Ia mulai meneliti dan menemukan fenomena โpipa bocorโ (leaky pipeline), di mana lebih dari 50 persen perempuan keluar dari jalur karier antara level menengah dan senior. Masa-masa itu bertepatan dengan puncak tanggung jawab pengasuhan, baik terhadap anak maupun orang tua lanjut usia.
Pada 2023, Khatija mendirikan Moxy. Platform ini mengumpulkan suara perempuan pekerja di Asia melalui dua pilar data. Pertama, Moxy Movement, tempat perempuan secara anonim berbagi pengalaman tentang kesetaraan dan fleksibilitas di tempat kerja. Hingga kini, hampir 1.000 perempuan dari 168 perusahaan telah berpartisipasi, dengan 74 persen di antaranya berasal dari Singapura. Data tersebut ditampilkan di dasbor publik untuk menunjukkan pola dan celah yang ada.
Kedua, Moxy TableInsights, alat diagnostik yang digunakan saat perusahaan menjadi mitra. Dalam sesi kelompok kecil, karyawan perempuan bercerita dengan kata-kata mereka sendiri, menanggapi skenario yang relevan, dan menunjukkan area yang paling membutuhkan perubahan. Misalnya, seorang ibu tunggal mengaku tidak bisa menghadiri acara malam atau akhir pekan, sementara rekan pria bisa membangun jaringan tanpa hambatan.
Bagi Indonesia, temuan Moxy relevan mengingat tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih di bawah 55 persen, dan banyak perempuan meninggalkan pekerjaan karena beban ganda. Data Moxy menunjukkan bahwa kurangnya fleksibilitas dan dukungan manajemen menengah menjadi faktor utama. โPercakapan tentang inklusi sering berfokus pada puncak perusahaan, tetapi pengalaman sehari-hari perempuan sangat dipengaruhi oleh atasan langsung mereka,โ ujar Khatija.
Moxy juga mengembangkan TableTalk, permainan kolaboratif yang dimainkan dalam kelompok 8โ10 orang. Setiap kelompok mendapatkan kartu karakter perempuan yang hidupnya berkembang melalui serangkaian peristiwa positif dan negatif. Tujuannya adalah membangun kisah terbaik untuk karakter tersebut. Lebih dari 1.000 orang dari berbagai organisasi telah memainkan permainan ini, yang dirancang bersama psikolog perilaku dan perancang game.
Khatija berharap lebih banyak perusahaan mengadopsi job-sharing, di mana dua atau lebih karyawan paruh waktu berbagi tanggung jawab satu posisi penuh waktu. โAda ketidaksesuaian besar antara permintaan dan pasokan,โ tegasnya. Ia juga mendorong transparansi proses promosi dan pengembangan kepemimpinan inklusif.
Ke depan, Moxy akan terus memperluas jangkauan datanya di Asia Tenggara. Pertanyaannya, akankah perusahaan-perusahaan di Indonesia bersedia membuka data internal mereka untuk mengungkap hambatan yang selama ini tak terlihat?



