AHA: Minum Kopi hingga 5 Cangkir Sehari Aman untuk Jantung, Asal Tahu Cara Menyajikannya
Baca dalam 60 detik
- American Heart Association menyatakan konsumsi kopi berkafein hingga 400 mg per hari (setara 5 cangkir) aman bagi dewasa sehat dan berpotensi menurunkan risiko diabetes tipe 2.
- Kopi tanpa filter seperti espresso dan French press justru meningkatkan kolesterol jahat (LDL) karena mengandung senyawa cafestol, sementara kopi filter dan instan lebih aman.
- Ahli gizi mengingatkan bahwa respons terhadap kafein bersifat individual; bagi penderita hipertensi atau aritmia, batas aman bisa jauh lebih rendah.

American Heart Association (AHA) baru saja menerbitkan pernyataan ilmiah terbaru yang menegaskan bahwa konsumsi kopi berkafein hingga lima cangkir per hari—setara 400 miligram kafein—masih tergolong aman bagi orang dewasa sehat dan bahkan dapat memberikan manfaat kardiovaskular tertentu. Pernyataan yang dimuat di jurnal Circulation pada 20 Juli 2026 ini sekaligus mengoreksi anggapan lama bahwa kopi selalu berdampak buruk bagi tekanan darah dan irama jantung.
Dalam dokumen setebal puluhan halaman tersebut, AHA merangkum bukti dari puluhan studi terbaru yang menunjukkan hubungan antara kopi dan kesehatan jantung tidak sesederhana yang selama ini dipercaya. Misalnya, konsumsi 1–3 cangkir kopi per hari justru dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi pada orang dengan tekanan darah normal. Sebaliknya, mereka yang minum lebih dari tiga cangkir sehari justru memiliki risiko hipertensi yang lebih rendah. Fenomena ini, menurut terapis gizi Claire Cohen, bisa dijelaskan oleh toleransi kafein yang terbentuk pada peminum rutin, serta efek kausalitas terbalik—mereka yang sensitif terhadap kafein cenderung mengurangi asupannya secara alami.
Pengaruh kopi terhadap kolesterol juga bergantung pada cara penyajian. Kopi tanpa filter—seperti espresso, French press, atau kopi Turki—terbukti meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) karena mengandung cafestol, senyawa alami yang menghambat kemampuan hati membersihkan LDL dari darah. Sebaliknya, kopi filter dan kopi instan tidak memiliki efek serupa karena cafestol tersaring selama proses produksi. “Cafestol dapat meningkatkan LDL dengan mengurangi kemampuan hati mengeluarkannya dari aliran darah,” jelas Cohen.
Dalam hal irama jantung, data observasional menunjukkan bahwa 1–3 cangkir kopi per hari tidak meningkatkan risiko fibrilasi atrium. Namun, uji acak terkendali menemukan bahwa kafein—bahkan dalam jumlah yang lazim dikonsumsi masyarakat—dapat memicu kontraksi ventrikel prematur (PVC), yaitu detak jantung yang berasal dari bilik bawah. PVC yang sering terjadi bisa menyebabkan pembesaran ventrikel kiri dan berujung pada gagal jantung.
Kabar baik datang dari risiko diabetes tipe 2. Tinjauan terhadap 28 studi prospektif menemukan bahwa konsumsi 3,5–5 cangkir kopi per hari dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes sebesar 20–30%. Menariknya, manfaat ini tampaknya tidak berasal dari kafein, melainkan dari senyawa antioksidan dan polifenol dalam kopi. Studi terhadap lebih dari 100.000 perempuan dalam Health Professionals and Nurses’ Health Study menunjukkan bahwa kopi tanpa kafein pun memberikan efek protektif serupa.
Ahli diet kardiologi preventif Michelle Routhenstein menekankan bahwa pernyataan AHA ini bukanlah izin untuk minum kopi sebanyak-banyaknya. “Saya melihatnya sebagai bukti bahwa hingga lima cangkir kopi filter per hari dapat selaras dengan kesehatan jantung, tetapi itu bukan rekomendasi atau target asupan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa respons terhadap kafein sangat individual—dipengaruhi oleh genetika, kondisi kesehatan dasar, dan toleransi saluran cerna.
“Yang paling penting bukan hanya berapa banyak kopi yang Anda minum, tetapi bagaimana cara menyajikannya, apa yang Anda tambahkan ke dalamnya, dan bagaimana tubuh Anda merespons.” — Michelle Routhenstein, ahli diet kardiologi
Bagi konsumen di Indonesia, temuan ini relevan mengingat budaya ngopi yang kuat—dari kopi tubruk khas Jawa hingga espresso di kafe modern. Ahli gizi menyarankan untuk memilih kopi hitam tanpa gula berlebih atau krimer, serta menghindari minuman energi yang kerap dikira sebagai pengganti kopi. “Kopi adalah minuman kompleks yang kaya antioksidan, tidak seperti minuman energi yang sarat gula dan stimulan,” kata Cohen.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pernyataan AHA ini mengubah kebiasaan minum kopi masyarakat Indonesia, atau justru memperkuat kebiasaan yang sudah ada? Yang jelas, secangkir kopi hitam tanpa gula—disajikan dengan metode filter—masih menjadi pilihan terbaik untuk jantung.



