Tekanan Tak Tertahankan: Wasit Anthony Taylor Pensiun Setelah 20 Tahun Karier
Baca dalam 60 detik
- Anthony Taylor, wasit elite Inggris, mengakhiri karier 20 tahun dengan 831 laga, menyebut tekanan dan sorotan konstan sebagai alasan utama.
- Insiden pelecehan di Bandara Budapest setelah final Liga Europa 2023 menjadi titik balik yang memengaruhi keputusan pensiunnya.
- Pensiunnya Taylor membuka peluang bagi wasit muda seperti Farai Hallam dan Tom Kirk di era baru kelompok wasit profesional Inggris.

Wasit kawakan Inggris, Anthony Taylor, memutuskan gantung peluit secara efektif segera setelah menjalani karier selama dua dekade. Dalam pernyataannya, ia menyebut tekanan luar biasa dan pengawasan tanpa henti sebagai faktor utama di balik keputusan ini. Taylor, 47 tahun, mengakhiri perjalanannya dengan memimpin laga Spanyol vs Portugal di babak 16 besar Piala Dunia 2022 pada 6 Juli lalu.
Bekas petugas penjara ini memulai karier wasit profesional di Football League pada musim 2006-2007. Empat tahun berselang, ia promosi ke Premier League dan tercatat memimpin 432 pertandingan kasta tertinggi Inggris, termasuk semua final domestik besar. Total, ia memimpin 668 laga di kompetisi profesional Inggris dan 163 pertandingan internasional.
Taylor sempat masuk daftar calon wasit final Piala Dunia 2022, tetapi gagal karena ketegangan politik antara Inggris dan Argentina. Ia juga dipercaya memimpin laga-laga besar Eropa seperti final Piala Super UEFA 2020, final Nations League 2021, dan final Liga Europa 2023. Namun, sorotan terbesar justru datang dari insiden di luar lapangan.
Puncak tekanan dialami Taylor setelah final Liga Europa 2023. Pelatih AS Roma, Jose Mourinho, menyebutnya "aib" dua kali dalam konferensi pers, lalu menghadangnya di tempat parkir—insiden yang membuat Mourinho dihukum larangan empat pertandingan. Lebih parah, Taylor dan keluarganya diteriaki dan dilecehkan oleh suporter saat melintas di Bandara Budapest. "Itu situasi terburuk yang pernah saya hadapi dalam hal pelecehan," ujar Taylor kepada BBC Sport pada Oktober 2025. "Bukan hanya karena saya bepergian dengan keluarga, tetapi juga menunjukkan dampak perilaku orang lain. Padahal dalam laga itu tidak ada kesalahan besar."
Keputusan pensiun Taylor menciptakan kekosongan di puncak kepemimpinan wasit Inggris. Namun, badan wasit Pro Ref (sebelumnya PGMO) telah menyatukan kelompok wasitnya untuk musim 2026-2027. Kelompok wasit profesional baru ini akan melayani Premier League dan Championship, membuka peluang bagi wasit muda seperti Farai Hallam dan Tom Kirk.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Taylor menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan terhadap wasit dari tekanan dan pelecehan. Di Indonesia, wasit kerap menjadi sasaran kemarahan suporter dan official klub, bahkan hingga ancaman fisik. Reformasi sistem wasit seperti yang dilakukan Inggris—dengan pembentukan kelompok wasit profesional dan regenerasi—bisa menjadi contoh untuk meningkatkan kualitas dan keamanan wasit di Liga Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah wasit-wasit muda pengganti Taylor mampu menghadapi tekanan serupa? Atau justru model baru Pro Ref akan mengurangi beban psikologis dengan pembagian tugas yang lebih merata? Yang jelas, sepak bola Inggris kehilangan sosok yang telah menjadi andalan di laga-laga krusial.



