Ikatan di Tengah Badai: Jodie Sweetin dan John Stamos Temukan Kembali Persahabatan Lewat Perjuangan Melawan Kecanduan
Baca dalam 60 detik
- Jodie Sweetin dan John Stamos, bintang Full House, membangun kembali hubungan setelah sama-sama melewati masa sulit akibat kecanduan.
- Sweetin mengaku bangga bisa menjadi contoh nyata pemulihan, bukan sekadar promotor gaya hidup bersih.
- Kisah mereka menyoroti pentingnya dukungan sebaya dan terapi profesional dalam mengatasi adiksi, relevan dengan tren kesadaran kesehatan mental di Indonesia.

Dua dekade setelah serial Full House berakhir, Jodie Sweetin dan John Stamos justru menemukan ikatan baru yang lebih dalam: perjuangan bersama melawan kecanduan. Sweetin, yang kini berusia 44 tahun, mengungkapkan bahwa hubungan mereka kembali erat setelah Stamos memberinya penghargaan di ajang Experience, Strength and Hope Awards pada 2019. Momen itu menjadi titik awal mereka saling mendukung dalam pemulihan.
Dalam wawancara dengan The Dory Jackson Interview, Sweetin menceritakan bagaimana ia dan Stamos, 62 tahun, saling terhubung secara emosional melalui pengalaman serupa. โKami benar-benar terhubung dalam banyak hal soal pemulihan,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa mereka selalu hadir merayakan pencapaian besar satu sama lain. Sweetin menekankan prinsip penting dalam program 12 langkah: menjadi contoh yang menarik, bukan sekadar promosi.
Sweetin berhenti mengonsumsi alkohol pada 2011, sementara Stamos memulai perjalanan pemulihannya pada 2015. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai perjalanan panjang yang melibatkan program 12 langkah, terapi, dan pendewasaan diri. โKamu mendapat kesempatan menjadi orang yang berbeda, dan begitu kamu mulai menyukai orang itu, akan sulit kembali ke perilaku destruktif,โ katanya.
Stamos sendiri sebelumnya mengakui peran besar terapis Phil Stutz dalam hidupnya. Stutz menjadi subjek dokumenter Netflix tahun 2022 yang diproduseri oleh Jonah Hill. โSaya mungkin tidak akan ada di sini tanpanya,โ kata Stamos kepada PageSix. Ia menggambarkan Stutz sebagai sosok pragmatis yang membantunya sadar akan kondisi dirinya. Stamos bahkan memperkenalkan mendiang Bob Saget kepada Stutz, yang kemudian juga membantu Saget.
Kisah Sweetin dan Stamos menjadi pengingat bahwa kecanduan tidak memandang usia atau status selebritas. Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan pemulihan adiksi terus tumbuh, meski masih ada stigma. Kisah seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang berjuang dalam diam, bahwa dukungan dari sesama dan profesional sangat berarti.
Ke depannya, publik mungkin akan melihat lebih banyak kolaborasi antara Sweetin dan Stamos dalam kampanye kesadaran adiksi. Pertanyaannya, akankah kisah mereka mendorong lebih banyak figur publik di Indonesia untuk terbuka tentang perjuangan serupa?



