Arthur Atta: Dari Ruang Tamu ke Serie A, Gaya Unik Gelandang Baru Fiorentina
Baca dalam 60 detik
- Arthur Atta, rekrutan anyar Fiorentina, mengungkap latihan unik di rumah yang membentuk ketenangannya dalam tekanan.
- Gelandang muda ini mengidolakan Quaresma dan Payet dalam teknik trivela, dan mengaku masih terus mengasah kemampuan tersebut.
- Pertemuan dengan Luka Modric di Serie A menjadi momen paling berkesan, membuktikan bahwa sang maestro tetap luar biasa di usia 40 tahun.

Arthur Atta, gelandang muda yang baru saja merapat ke Fiorentina dari Udinese, membuka tabir masa kecil dan pengaruh yang membentuk gaya bermainnya. Dalam wawancara dengan Romanzo Calcistico, ia menceritakan bagaimana sang ayah sengaja mengubah ruang tamu menjadi arena latihan, mengajarinya bermain di bawah tekanan sejak dini.
"Saya sering bermain sepak bola di dalam rumah. Ayah selalu mengingatkan agar tidak merusak barang, tapi sebenarnya ia sengaja melakukannya untuk membiasakan saya bermain dalam tekanan," ujar Atta. Ia mengaku sering mengoper bola ke dinding, berusaha tidak mengenai benda lain di sekitarnya. Metode ini, menurutnya, menjadi fondasi ketenangannya saat menguasai bola di lapangan.
Perjalanan Atta menuju posisi gelandang tidaklah langsung. Dalam sebuah turnamen regional besar, ia sempat ditempatkan sebagai kiper, namun hanya bertahan sehari sebelum akhirnya dipindahkan ke lini tengah. "Saya merasa jauh lebih nyaman di sana," kenangnya. Kini, ia dikenal dengan umpan trivelaโtendangan menggunakan sisi luar kakiโyang menjadi ciri khasnya.
Atta tidak segan mengakui bahwa teknik trivela-nya terinspirasi dari para maestro. "Quaresma melakukannya dengan cara yang luar biasa, dan Payet juga sangat mahir. Saya belum setingkat mereka, tapi saya berusaha menyempurnakannya setiap hari," katanya. Gelandang berusia 21 tahun ini tampaknya memiliki obsesi teknis yang tinggi, sebuah kualitas yang diyakini Fiorentina akan menjadi aset berharga.
Namun, momen paling berkesan di musim debut Serie A-nya adalah pertemuan dengan Luka Modric. Saat Udinese bertemu AC Milan, Atta dan rekan setimnya sempat meragukan kemampuan Modric yang disebut-sebut mulai menurun. "Kami tahu betapa kuatnya dia, meski beberapa orang menganggap dia bukan lagi pemain seperti dulu. Tapi setelah pertandingan, kami semua sepakat: dia luar biasa bahkan di usia 40 tahun," ungkap Atta. Pengakuan ini menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap legenda hidup sepak bola Kroasia tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Atta memberikan gambaran bahwa bakat muda Eropa tidak selalu lahir dari akademi megah. Latihan sederhana di rumah, ketekunan, dan kekaguman terhadap pemain senior bisa menjadi fondasi karier yang gemilang. Fiorentina, yang dikenal sebagai klub pembina bakat, tampaknya kembali menemukan permata yang siap diasah. Pertanyaannya, mampukah Atta mengikuti jejak idolanya dan menjadi gelandang top Serie A?



