Video Perundungan Siswi SD di Lampung Timur Viral, Polisi Bergerak
Baca dalam 60 detik
- Rekaman kekerasan fisik dan verbal terhadap seorang siswi SD di Lampung Timur menyebar luas di media sosial, memicu kecaman publik.
- Polres Lampung Timur melalui Unit PPA telah memulai penyelidikan dan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mengidentifikasi pelaku.
- Motif perundungan masih belum diketahui, sementara proses pemeriksaan saksi dan pengumpulan bukti terus berlangsung.

Video berdurasi empat menit yang memperlihatkan aksi perundungan terhadap seorang siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Lampung Timur menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Rekaman tersebut menampilkan sekelompok anak perempuan berseragam batik biru dan rok merah yang secara bergantian melakukan intimidasi verbal dan fisik, termasuk mendorong, menjambak, dan menampar korban di lorong luar ruang kelas. Insiden ini memicu keprihatinan luas serta desakan agar aparat segera menindak tegas para pelaku.
Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lampung Timur langsung bergerak setelah video tersebut viral. Kasat Reskrim Polres Lampung Timur, Iptu M Iksir, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan penelusuran dan memastikan lokasi kejadian berada di Kecamatan Labuhan Maringgai. "Tim masih bekerja, mohon waktunya. Perkembangan akan kami informasikan lebih lanjut," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (17/7).
Dalam video yang direkam menggunakan ponsel oleh salah satu siswa, korban tampak hanya bisa terdiam saat dijambak dan ditampar. Latar belakang rekaman memperdengarkan suara tawa dan celetukan dari anak-anak lain yang diduga ikut menyaksikan. Aksi tersebut menunjukkan pola perundungan yang tidak hanya merendahkan secara verbal, tetapi juga menyakiti secara fisikโsebuah gambaran mengkhawatirkan tentang budaya kekerasan di lingkungan pendidikan dasar.
Fenomena perundungan di kalangan pelajar sekolah dasar bukanlah kasus pertama di Indonesia. Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah masih menjadi masalah yang membutuhkan perhatian serius. Kasus di Lampung Timur ini kembali mengingatkan bahwa perundungan tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di daerah, dan pelakunya bisa berasal dari kelompok usia yang sangat muda.
Polisi saat ini masih mendalami motif di balik aksi tersebut. Iksir menegaskan bahwa proses identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat terus berjalan, termasuk memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan barang bukti. "Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya karena pendalaman masih berlangsung," tambahnya. Langkah koordinasi dengan pihak sekolah setempat juga dilakukan untuk memastikan korban mendapatkan pendampingan yang diperlukan.
Kasus ini menjadi ujian bagi aparat dan institusi pendidikan dalam menangani perundungan secara tuntas. Apakah penegakan hukum akan memberikan efek jera, atau justru hanya menjadi formalitas tanpa perubahan sistemik? Pertanyaan itu layak diajukan, mengingat banyak kasus serupa yang sebelumnya tidak berujung pada perbaikan lingkungan sekolah yang lebih aman bagi anak-anak.



