Longsor di Chongqing Tewaskan 8 Orang, 34 Lainnya Hilang: Presiden Xi Perintahkan Investigasi
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor di Chongqing, China, menewaskan sedikitnya delapan warga dan menyebabkan 34 orang dinyatakan hilang pada Jumat (17/7) pagi.
- Lebih dari 800 personel penyelamat dikerahkan ke lokasi di Kabupaten Pengshui, dengan 18 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan.
- Presiden Xi Jinping memerintahkan inspeksi menyeluruh terhadap risiko geologis, menyusul dua bencana serupa dalam waktu berdekatan.

Longsor besar yang menerjang kawasan permukiman dan komersial di Kabupaten Pengshui, Chongqing, China barat daya, Jumat (17/7) pagi, menewaskan sedikitnya delapan orang dan menyebabkan 34 lainnya hilang. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 09.10 waktu setempat ini memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran yang melibatkan lebih dari 800 personel.
Bupati setempat, Ren Xujiang, dalam konferensi pers mengonfirmasi bahwa 18 orang yang sempat terjebak berhasil dievakuasi. Namun, delapan di antaranya ditemukan tewas. Rekaman dari penyiar nasional CCTV memperlihatkan tumpukan besar batu dan tanah yang menutupi sebagian jalan pemukiman dan pertokoan di kaki gunung. Klip lain menunjukkan warga berteriak dan berlari menghindari awan debu yang menyelimuti area.
Pejabat setempat menggambarkan medan di lokasi longsor sebagai 'terjal dan tidak terduga', dengan bebatuan berbahaya yang masih tersisa di sepanjang tebing. Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian Manajemen Darurat mengalokasikan dana bantuan bencana alam sebesar 50 juta yuan (sekitar Rp107 miliar) untuk mendukung operasi penyelamatan dan bantuan bagi warga terdampak.
Presiden Xi Jinping mendesak otoritas untuk segera menentukan penyebab bencana dan 'mengidentifikasi serta menghilangkan risiko bencana geologis dan potensi bahaya lainnya'. Pernyataan ini menekankan urgensi mitigasi bencana di tengah frekuensi longsor yang meningkat. Bencana di Chongqing terjadi kurang dari dua pekan setelah longsor di Provinsi Gansu, barat laut China, yang mengubur 33 orang dan menewaskan 21 di antaranya.
Bagi Indonesia, rangkaian longsor di China menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan tata ruang yang ketat di daerah rawan bencana. Dengan topografi serupa di beberapa wilayah seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat, pengalaman China dalam mengerahkan sumber daya secara cepat dan dana talangan bencana dapat menjadi bahan evaluasi. Pertanyaannya, apakah kesiapsiagaan Indonesia sudah cukup untuk menghadapi bencana geologis yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim?



