Pasar Saham Negara Berkembang Tertekan: Konflik AS-Iran dan Aksi Ambil Untung Saham Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham emerging markets (EM) global merosot 2,7% dalam sepekan, terdampak eskalasi ketegangan AS-Iran dan aksi ambil untung di saham semikonduktor.
- Laba gemilang TSMC dan ASML gagal membangkitkan sentimen positif karena valuasi saham chip dinilai sudah terlalu tinggi, memicu kekhawatiran keberlanjutan reli AI.
- Tekanan di pasar keuangan global berpotensi merembet ke Indonesia melalui pelemahan rupiah dan arus modal keluar, terutama jika harga minyak terus melonjak.

Pasar saham negara berkembang (emerging markets/EM) kembali menghadapi tekanan berat pada akhir pekan ini, dengan indeks acuan MSCI mencatat penurunan 2,7 persen secara mingguan—terburuk dalam hampir tiga pekan terakhir. Dua faktor utama menjadi biang kerok: memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta aksi ambil untung investor di sektor saham semikonduktor global yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli kecerdasan buatan (AI).
Indeks saham EM yang diperdagangkan di bursa-bursa Asia, Eropa Timur, dan Afrika bergerak variatif namun cenderung melemah. Indeks berbasis teknologi di Taiwan ambruk 6,5 persen pada Selasa lalu—penurunan terdalam sejak kebijakan tarif "Hari Pembebasan" Presiden Donald Trump. Saham unggulan China juga ikut terperosok 3,6 persen. Sementara itu, bursa Korea Selatan libur sehingga terhindar dari aksi jual. Di Eropa Timur, indeks utama Polandia turun 0,8 persen, Hungaria 0,5 persen, dan Rumania 0,2 persen.
Fenomena menarik terjadi di sektor semikonduktor. Meskipun Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) melaporkan laba kuartal kedua yang gemilang dan ASML—produsen peralatan chip asal Belanda—menaikkan proyeksi pendapatan, harga saham kedua perusahaan justru tertekan. "Ketidakmampuan hasil impresif ini memicu reaksi positif pasar menunjukkan satu hal: valuasi saham chip sudah melampaui batas wajar," ujar Ipek Ozkardeskaya, analis senior Swissquote Bank. Ia menambahkan bahwa investor mulai resah dengan pengeluaran besar-besaran untuk AI yang berpotensi meningkatkan risiko utang perusahaan.
Di sisi lain, ketegangan di Teluk antara AS dan Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa keamanan energi dunia terancam jika pasokan minyak melalui Selat Hormuz tidak segera ditingkatkan. Harga minyak mentah pun melonjak dan menuju kenaikan mingguan terbesar dalam hampir tiga bulan. Kondisi ini menambah beban bagi negara-negara EM yang rentan terhadap fluktuasi harga energi, termasuk Indonesia.
Analis Barclays dalam catatan risetnya mengungkapkan bahwa inflasi di sebagian besar EM justru mengejutkan ke arah bawah, terutama karena tekanan harga pangan yang terkendali. Namun, mereka menilai kenaikan suku bunga tetap diperlukan mengingat arah kebijakan suku bunga AS yang masih cenderung naik dan volatilitas harga energi. "Premi pengetatan tampaknya beralasan meskipun data inflasi lebih lunak," tulis mereka.
Di pasar valuta asing, mata uang EM bergerak flat hingga melemah terhadap dolar AS yang stabil. Rand Afrika Selatan turun 0,5 persen, sementara lira Turki stagnan. Mata uang Eropa Timur seperti forint Hungaria dan zloty Polandia masing-masing melemah 0,4 persen terhadap euro. Zloty bahkan mencatat pelemahan mingguan ketujuh berturut-turut—terpanjang sejak 2022. Sementara itu, bursa saham Turki ambles 1,8 persen dan Afrika Selatan turun 1 persen.
Bagi Indonesia, situasi ini perlu dicermati. Pelemahan bursa global dan kenaikan harga minyak berpotensi menekan rupiah serta memicu arus modal keluar. Namun, data ekonomi domestik yang solid—seperti pertumbuhan ekonomi Malaysia 5,8 persen tahun-ke-tahun di kuartal II—menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara masih memiliki daya tahan. Keputusan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan suku bunga akan menjadi kunci menghadapi gejolak eksternal.
Ke depan, pasar akan mencermati hasil review peringkat kredit Turki dan Kenya oleh Fitch, serta keputusan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini. Pertanyaan besarnya: akankah aksi ambil untung di saham teknologi berubah menjadi koreksi berkepanjangan, ataukah ini hanya jeda sementara sebelum reli AI berlanjut? Jawabannya akan menentukan arah aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.



