IHSG Melonjak 1,1% Ditopang Saham Bank, Volume Transaksi Tembus Rp 16 Triliun
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup menguat 67,32 poin ke 6.173,53 pada Jumat (17/7/2026) dengan nilai transaksi Rp 16,32 triliun, tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
- Emiten perbankan jumbo seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi motor penguatan, menyumbang 54,7 poin bagi indeks.
- Analis menilai technical rebound, meredanya arus keluar asing, serta sinyal kebijakan BI soal NDF offshore mendorong optimisme investor.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan signifikan pada akhir pekan ini, ditutup naik 1,1 persen ke level 6.173,53, didorong oleh aksi beli besar-besaran di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Volume transaksi pun membengkak, menandakan kembalinya gairah investor di tengah sentimen positif dari kebijakan moneter dan perbaikan fundamental sektor keuangan.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp 16,32 triliun, melibatkan 24,04 miliar saham dalam 1,99 juta kali transaksi. Angka ini jauh melampaui rata-rata harian sebelumnya yang berkisar Rp 10 triliun, bahkan sulit menembus Rp 15 triliun. Kapitalisasi pasar IHSG ikut meroket menjadi Rp 10.749 triliun, dengan 363 saham menghijau, 274 memerah, dan 328 stagnan.
Sektor finansial menjadi primadona dengan kenaikan 3,2 persen, berkontribusi 54,7 poin terhadap penguatan IHSG. Emiten bank jumbo seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi motor utama. Menurut analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, penguatan ini merupakan technical rebound setelah tekanan jual sebelumnya, ditambah dengan mulai terbatasnya arus keluar dana asing.
Dari sisi fundamental, Elandry menambahkan bahwa ekspektasi perbaikan likuiditas, potensi pemulihan pertumbuhan kredit, serta valuasi saham bank yang semakin menarik menjadi katalis tambahan. Kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) juga dinilai memberikan persepsi positif terhadap transparansi pasar modal. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai faktor eksternal seperti arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan keberlanjutan aliran modal asing.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai penguatan saham perbankan juga dipicu respons positif investor terhadap pernyataan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026. Destry menegaskan bahwa bank-bank Indonesia tidak akan menanggung kerugian BI dalam skema stabilisasi rupiah, yang meredakan kekhawatiran pasar. "Akhirnya investor asing mendengar jaminan langsung dari pejabat senior BI," ujar Liza.
Dalam forum tersebut, Destry mengungkapkan bahwa sejak April 2026, BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore selama 24 jam enam hari seminggu melalui kantor perwakilan di Singapura, Hong Kong, dan New York. BI juga memberikan pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di offshore bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu. Kebijakan ini bertujuan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pendalaman pasar keuangan domestik.
Selain itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valas dengan menambahkan spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah. Langkah ini dinilai sebagai terobosan untuk memperkuat likuiditas pasar dan memberikan fleksibilitas lebih bagi pelaku pasar. Kombinasi kebijakan tersebut, menurut para analis, menjadi angin segar bagi sektor perbankan yang sebelumnya tertekan oleh kekhawatiran akan dampak stabilisasi rupiah terhadap laba bank.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penguatan ini dapat berkelanjutan. Investor akan mencermati data ekonomi global, keputusan suku bunga bank sentral AS, serta konsistensi aliran modal asing masuk. Jika faktor-faktor tersebut tetap kondusif, bukan tidak mungkin IHSG akan menguji level resisten berikutnya dengan sektor perbankan sebagai lokomotif utama.



