IHSG Bangkit Ditopang Bank Jumbo, Asing Koleksi BBCA Rp367 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan berhasil membalikkan arah dari zona merah ke hijau pada sesi I Jumat (17/7), ditutup di level 6.141,9 atau naik 0,55%.
- Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih tipis senilai Rp39,9 miliar di seluruh pasar, dengan fokus utama pada saham perbankan jumbo seperti BBCA, BMRI, dan BBRI.
- Saham komoditas seperti TPIA dan ASII justru menjadi sasaran aksi jual asing, menandakan pergeseran preferensi investor ke sektor finansial.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil keluar dari tekanan awal dan menutup sesi pertama perdagangan Jumat (17/7) di zona hijau, didorong oleh aksi beli investor asing yang terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Indeks ditutup pada level 6.141,9, naik 33,69 poin atau 0,55% dari penutupan sebelumnya, setelah sempat terperosok ke level 6.079 pada awal sesi.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp39,90 miliar di seluruh pasar. Nilai transaksi asing mencapai Rp5,30 triliun, dengan rincian pembelian Rp2,67 triliun dan penjualan Rp2,63 triliun. Meski tipis, aksi beli bersih ini menjadi sinyal positif di tengah sentimen global yang masih mixed.
Sentimen domestik turut mendukung. Realisasi investasi semester I-2026 yang menembus rekor Rp1.010,6 triliun dan peresmian proyek gas raksasa Blok Masela di Maluku menjadi katalis yang memperkuat kepercayaan pelaku pasar. Sementara itu, data tenaga kerja dan konsumsi ritel Amerika Serikat yang solid mengonfirmasi ketahanan ekonomi AS, mengurangi kekhawatiran resesi global.
Sektor finansial menjadi motor utama penguatan IHSG. Empat bank jumbo—BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI—mencatat kenaikan signifikan, dengan BBCA melesat 2,41%, BMRI naik 3,25%, BBRI menguat 3,15%, dan BBNI bertambah 2,57%. Keempat saham ini nyaris menyumbang 20 poin terhadap indeks. Sebaliknya, saham teknologi DCI Indonesia (DCII) menjadi pemberat terbesar dengan koreksi 3,94%, menekan IHSG hampir 8 poin.
Aksi beli asing paling deras mengalir ke BBCA, dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp367,30 miliar—jauh melampaui saham lainnya. BMRI dan BBRI juga diburu asing masing-masing sebesar Rp198,05 miliar dan Rp163,21 miliar. Selain perbankan, asing juga mengoleksi saham Telkom Indonesia (TLKM) senilai Rp89,20 miliar, Bank Syariah Indonesia (BRIS) Rp14,34 miliar, dan Indofood CBP (ICBP) Rp3,38 miliar.
Di sisi lain, aksi jual asing terfokus pada saham komoditas. PT Chandra Asri Pacific (TPIA) menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai penjualan bersih Rp143,27 miliar. Disusul Astra International (ASII) Rp86,44 miliar dan Amman Mineral Internasional (AMMN) Rp53,22 miliar. Tekanan jual juga menghantam saham Bumi Resources Minerals (BRMS), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Darma Henwa (DEWA), dan Petrosea (PTRO).
Fenomena ini menunjukkan pergeseran preferensi investor asing dari sektor komoditas yang volatil ke sektor finansial yang dianggap lebih stabil, terutama di tengah prospek suku bunga yang masih tinggi. Bagi investor ritel Indonesia, pola ini bisa menjadi indikasi bahwa fundamental perbankan masih solid dan layak dicermati untuk portofolio jangka menengah.
Ke depan, pasar akan mencermati rilis data inflasi AS pekan depan serta keputusan suku bunga Bank Indonesia. Apakah aksi beli asing di saham perbankan akan berlanjut, atau justru berbalik arah jika sentimen global memburuk? Jawabannya akan menentukan arah IHSG dalam beberapa pekan ke depan.



