Newcastle Simpan 'Mutiara' di Cadiz: Antonio Cordero, Proyek Jangka Panjang Pengganti Gordon?
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United mengontrak Antonio Cordero dari Malaga pada 2025, namun pemain 19 tahun itu masih dipinjamkan ke Cadiz di Segunda Division hingga 2026/27.
- Analis menyebut Cordero memiliki gaya bermain mirip Anthony Gordon: eksplosif, progresif, dan mampu bermain di kedua sayap, menjadikannya kandidat pengganti Gordon yang hengkang.
- Dengan data akurasi umpan 82% dan fleksibilitas posisi, Cordero dinilai punya potensi lebih besar ketimbang rekrutan anyar Bazoumana Toure dalam jangka panjang.

Newcastle United tak hanya kehilangan Anthony Gordon dan Sandro Tonali di bursa transfer musim panas ini, tetapi juga diam-diam menanam investasi jangka panjang yang bisa menjadi jawaban atas kepergian sang bintang sayap. Klub asal Tyneside itu telah mengamankan tanda tangan Antonio Cordero, pemain sayap kiri berusia 19 tahun yang kini masih menjalani masa peminjaman di Cadiz, dan diyakini memiliki potensi lebih besar ketimbang rekrutan anyar Bazoumana Toure.
Keputusan Newcastle melepas Gordon ke klub lain—meski meraup dana segar—telah meninggalkan lubang di lini serang. Namun, dengan mendatangkan Cordero secara gratis pada akhir kontraknya bersama Malaga pada Juni 2025, The Magpies tampaknya sudah menyiapkan rencana cadangan yang matang. Berbeda dengan Toure yang langsung bergabung dengan harga £42 juta, Cordero justru dipinjamkan kembali ke Cadiz untuk musim 2026/27, memberi waktu bagi pemain asal Spanyol itu untuk mengasah kemampuan di Segunda Division.
Analis dan pencari bakat, Ben Mattinson, yang juga bekerja untuk Como, menggambarkan Cordero sebagai pemain yang "seperti Gordon". Tubuhnya yang panjang dan dinamis dalam menggiring bola, ditambah kemampuannya menciptakan peluang bagi rekan setim, membuatnya dianggap sebagai tipe pemain sayap modern yang eksplosif. Sementara itu, analis Filipe Sousa menyebut Cordero sebagai "sayap kiri eksplosif" yang mampu bermain di kedua sisi, sebuah fleksibilitas yang memperkuat argumen bahwa ia adalah kandidat ideal untuk menggantikan Gordon dalam jangka panjang.
Meski statistik Cordero di Segunda Division belum mencengangkan—9 gol dan 7 assist dalam 60 laga—pola serupa pernah dialami Gordon. Sebelum pindah ke Newcastle dengan harga £45 juta, Gordon hanya mencatat 7 gol dan 8 assist dalam 78 penampilan di Everton. Yang membedakan adalah data di balik layar: Cordero mencatat akurasi umpan 82% musim lalu, menunjukkan kepercayaan diri dan progresivitas dalam membawa bola. Ia juga kerap berpindah dari sayap kiri ke kanan, menambah dimensi taktis bagi Eddie Howe.
Konteks ini menarik bagi penggemar sepak bola Indonesia yang kerap mengikuti perkembangan pemain muda Eropa. Newcastle, dengan dukungan dana dari PIF, menunjukkan strategi jangka panjang yang tidak hanya mengandalkan pembelian mahal, tetapi juga investasi pada pemain muda berbakat yang bisa menjadi bintang di masa depan. Jika Cordero mampu mengikuti jejak Gordon, ia bisa menjadi aset berharga yang menguntungkan secara finansial dan teknis—mirip dengan bagaimana klub-klub Eropa kini gencar merekrut pemain muda dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai investasi masa depan.
Pertanyaan besarnya: akankah Cordero mampu bersinar di Premier League seperti yang diharapkan? Atau justru Toure yang akan lebih dulu membuktikan diri? Hanya waktu yang akan menjawab, namun Newcastle tampaknya sudah memegang dua kartu as di lengan mereka.



