Kabut Asap Kebakaran Hutan Kanada Kembali Selimuti AS, Chicago dan Detroit Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Baca dalam 60 detik
- Asap kebakaran hutan Kanada yang tak terkendali menyebabkan kualitas udara di Chicago dan Detroit melampaui level berbahaya, memicu penutupan pantai dan pembatalan acara olahraga.
- Lebih dari 130 kebakaran aktif di Ontario barat laut memaksa evakuasi 15 komunitas, sementara pemerintah federal diminta mengerahkan bantuan udara.
- Peristiwa ini mengingatkan pada 2023 ketika New York diselimuti asap oranye, namun tahun ini indeks kualitas udara di Midwest justru lebih parah.

Asap tebal dari kebakaran hutan yang melanda Kanada kembali menyelimuti sebagian besar wilayah Amerika Serikat bagian utara dan timur laut, Kamis (16/7), mendorong Chicago menutup seluruh pantai umum dan menjadikan kota itu bersama Detroit sebagai pusat populasi dengan udara paling kotor di dunia.
Berdasarkan data IQAir yang dirilis Kamis malam, Chicago dan Detroit menempati peringkat pertama dan kedua kota paling tercemar secara global, disusul New York yang tak kalah parah. Indeks kualitas udara (AQI) di Chicago, Toledo (Ohio), dan beberapa wilayah Minnesota menembus angka 700—jauh melampaui ambang batas “berbahaya” yang ditetapkan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA). Sebagai perbandingan, saat New York diselimuti asap oranye pada Juni 2023, AQI tercatat 465.
Pemerintah Kota New York melalui Departemen Manajemen Darurat menyebut peristiwa ini berpotensi menjadi “episode asap paling signifikan sejak 2023”. Wali Kota Zohran Mamdani mengimbau warganya untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, sementara perpustakaan dan stasiun kereta menyediakan masker gratis. Ratusan pusat pendingin udara (cooling center) dibuka bagi warga yang tidak memiliki akses AC. Di Chicago, pertandingan Major League Soccer terpaksa ditunda.
Di Wisconsin selatan-tengah, Erin Lucey (38) yang mengelola pertanian organik keluarganya harus memanen sayuran dengan pekerja yang mengenakan masker di tengah hawa panas dan lembap. “Dada kami terasa sesak,” katanya kepada AFP. Ia menggambarkan kombinasi asap, gelombang panas, dan ladang kering sebagai sesuatu yang “mengerikan”. “Kami semua memikirkan betapa rapuhnya keseimbangan menanam pangan di masa depan seperti ini, dan membayangkan bagaimana jadinya 100 tahun lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Kanada masih bergulat dengan kebakaran yang melanda Ontario barat laut. Otoritas setempat secara resmi meminta bantuan tambahan dari pemerintah federal, terutama dukungan udara untuk mengevakuasi komunitas terpencil. Kepolisian Ontario melaporkan 15 komunitas dan sekitarnya telah dievakuasi. Perdana Menteri Ontario Doug Ford menyatakan lebih dari 150 regu pemadam dan hampir 50 pesawat pemadam kebakaran dikerahkan. Hingga kini, luas area yang terbakar mencapai 1,9 juta hektare—masih jauh di bawah rekor 2023 yang mencapai 18 juta hektare.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap memicu kabut asap lintas batas. Meskipun skala dan intensitasnya berbeda, pola sirkulasi asap yang meluas dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat serta sektor ekonomi—seperti pertanian dan pariwisata—memiliki kemiripan. Langkah-langkah mitigasi seperti penyediaan masker, pusat pendingin, dan sistem peringatan dini yang diterapkan di AS dan Kanada dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam menghadapi musim kemarau yang rawan karhutla.
Dengan prakiraan cuaca yang menunjukkan asap kemungkinan masih akan bertahan hingga akhir pekan, pertanyaan besarnya adalah: apakah peristiwa ini akan menjadi “new normal” akibat perubahan iklim, atau justru mendorong aksi yang lebih agresif untuk mengatasi pemanasan global?



