BTN Lanjutkan Akuisisi Kredit Pensiun SMBC Indonesia di Kuartal III 2026
Baca dalam 60 detik
- BTN akan mengakuisisi portofolio kredit pensiun SMBC Indonesia tahap kedua senilai Rp7,34 triliun pada kuartal III 2026, menambah total pengelolaan 344.600 rekening.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi beyond mortgage untuk menyeimbangkan portofolio kredit, dengan target porsi kredit non-perumahan mencapai 30% dalam lima tahun.
- Hingga semester I 2026, kredit non-perumahan BTN melonjak 46,1% yoy menjadi Rp85,22 triliun, sementara total kredit konsolidasi tumbuh 11,2% yoy.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) memastikan akan menuntaskan akuisisi tahap kedua portofolio kredit pensiun milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) pada kuartal ketiga tahun ini. Nilai transaksi yang disiapkan mencapai sekitar Rp7,34 triliun, melengkapi akuisisi tahap pertama senilai Rp12,6 triliun yang telah rampung sebelumnya.
Dengan penggabungan dua tahap tersebut, BTN akan mengelola total 344.600 rekening kredit pensiun. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi bisnis yang dijuluki beyond mortgage, di mana bank pelat merah ini tidak lagi hanya bergantung pada pembiayaan perumahan, tetapi juga merambah segmen kredit konsumsi lain yang lebih menguntungkan.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas (performing loan). Menurutnya, akuisisi ini tidak hanya memperkuat komposisi kredit non-perumahan, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil lebih tinggi tanpa mengorbankan risiko. โStrategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun,โ ujar Nixon dalam keterangan resmi, Kamis (16/6/2026).
BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30% dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan. Saat ini, kredit perumahan masih mendominasi dengan pangsa lebih dari 70%. Dengan diversifikasi ini, struktur bisnis BTN diharapkan menjadi lebih seimbang dan resilien terhadap fluktuasi sektor properti.
Kinerja kredit BTN hingga semester I 2026 menunjukkan tren positif. Total penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp418,11 triliun, naik 11,2% secara tahunan (yoy) dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan kredit perumahan sebesar 4,8% yoy menjadi Rp332,88 triliun, serta lonjakan kredit non-perumahan sebesar 46,1% yoy menjadi Rp85,22 triliun.
Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi motor utama kredit perumahan dengan pertumbuhan 8,1% yoy menjadi Rp196,96 triliun. Sementara itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang diluncurkan pada akhir Oktober 2025 telah mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026. Di sisi non-perumahan, ekspansi dilakukan ke sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, dan ritel. BTN juga menggandeng perusahaan multifinance untuk memperluas pembiayaan kendaraan bermotor sebagai bagian dari strategi cross selling kepada nasabah eksisting.
Bagi investor dan pelaku pasar, langkah BTN ini menunjukkan pergeseran strategi yang jelas menuju diversifikasi pendapatan. Dengan akuisisi kredit pensiun yang berkualitas, BTN tidak hanya memperbaiki kualitas aset tetapi juga membuka peluang peningkatan profitabilitas jangka panjang. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat BTN dapat mencapai target porsi kredit non-perumahan 30% di tengah persaingan ketat dari bank lain yang juga merambah segmen serupa.



