KM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar: 24 Penumpang Masih Hilang, Muatan 17 Ton dan 4 Sapi
Baca dalam 60 detik
- KM Nurul Salsa yang mengangkut 74 orang dan muatan 17 ton karam di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, setelah mengalami gangguan mesin.
- Sebanyak 55 penumpang berhasil dievakuasi, satu orang ditemukan tewas, sementara 24 lainnya masih dalam pencarian tim SAR gabungan.
- Insiden ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran antarpulau di Indonesia, terutama untuk kapal barang yang juga mengangkut penumpang.

Kapal Motor (KM) Nurul Salsa yang mengangkut 74 penumpang dan awak karam di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (15/7) lalu. Hingga Kamis (16/7) sore, tim SAR gabungan masih mencari 24 orang yang belum ditemukan, sementara satu orang dilaporkan tewas. Kapal ini juga membawa muatan 17 ton berupa beras, kopra, arang, empat ekor sapi, dan enam sepeda motor.
Menurut manifes kapal yang diungkapkan Kasubsi Penmas Polres Kepulauan Selayar, Aipda Suardi Andre, KM Nurul Salsa bertolak dari Pulau Jampea pada pukul 05.00 WITA. Di tengah perjalanan, kapal mengalami gangguan mesin di perairan barat Pulau Polassi, sekitar 43 mil laut dari Pelabuhan Benteng Selayar. Gangguan mesin tersebut diduga menjadi penyebab utama kapal tidak mampu bertahan dan akhirnya tenggelam.
Proses evakuasi dilakukan oleh KM Harapan Kita yang bergerak dari Pulau Jampea dan berhasil menjemput 49 orang pada Kamis (16/7) pukul 04.00 WITA. Selain itu, enam penumpang lainnya diselamatkan oleh kapal nelayan yang kebetulan berada di lokasi kejadian dan dievakuasi menuju Pulau Polassi. Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa data korban masih bersifat sementara dan belum valid karena masih menunggu laporan dari keluarga.
Insiden ini kembali mengungkap fakta pahit tentang keselamatan pelayaran di Indonesia. Kapal barang yang mengangkut penumpang secara ilegal atau semi-legal masih lazim terjadi di daerah terpencil, terutama di kawasan timur Indonesia. Muatan berat seperti 17 ton barang dan hewan ternak, ditambah puluhan penumpang, meningkatkan risiko jika terjadi gangguan teknis. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Perhubungan mengenai langkah investigasi atau penindakan terhadap operator kapal.
Masyarakat pesisir di Sulawesi Selatan dan sekitarnya kerap bergantung pada kapal-kapal kecil untuk mobilitas dan logistik karena terbatasnya infrastruktur transportasi laut yang memadai. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap kecelakaan serupa. Pemerintah daerah dan pusat perlu mengevaluasi kebijakan pengawasan kapal antarpulau, termasuk penerapan standar keselamatan dan larangan pengangkutan penumpang berlebih pada kapal barang.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, Polri, dan relawan terus melakukan pencarian di sekitar lokasi tenggelam. Cuaca di perairan Selayar dilaporkan cukup bersahabat, namun arus bawah laut yang kuat menjadi tantangan. Pertanyaan besar yang tersisa: akankah insiden ini mendorong perbaikan sistem keselamatan pelayaran, atau hanya akan menjadi catatan duka lain yang terlupakan?



