Tech Mahindra Cetak Pendapatan Kuartalan di Atas Ekspektasi, Manufaktur Jadi Motor Pertumbuhan
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Tech Mahindra kuartal I-2024/2025 tumbuh 17,7% secara tahunan, melampaui perkiraan analis berkat kinerja segmen manufaktur dan pelemahan rupee.
- Laba bersih perusahaan naik 28,5% namun masih di bawah konsensus, sementara divisi komunikasi yang menyumbang sepertiga pendapatan hanya tumbuh tipis.
- Peningkatan pesanan baru dan kemitraan strategis dengan Microsoft serta Telefonica Jerman menandai optimisme bisnis, relevan bagi industri IT global termasuk Indonesia.

Pendapatan kuartal pertama Tech Mahindra, perusahaan jasa perangkat lunak asal India, melampaui target analis berkat pertumbuhan signifikan di segmen manufaktur dan dampak positif depresiasi rupee terhadap nilai tukar. Pada periode AprilโJuni 2024, pendapatan perusahaan yang menempati peringkat kelima terbesar di India itu mencapai 157,12 miliar rupee (sekitar 1,63 miliar dolar AS), naik 17,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini lebih tinggi dari konsensus pasar yang memperkirakan 154,76 miliar rupee, menurut data LSEG.
Kinerja ini menunjukkan bahwa permintaan layanan digital di sektor manufaktur tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Divisi manufaktur Tech Mahindra, yang merupakan lini bisnis terbesar kedua perusahaan, mencatat pertumbuhan pendapatan 17,2 persen secara tahunan. Sebaliknya, divisi komunikasi yang menyumbang sekitar sepertiga dari total pendapatan hanya tumbuh 1,3 persen, menandakan perlambatan belanja teknologi dari operator telekomunikasi.
Keuntungan lain datang dari pelemahan rupee terhadap dolar AS yang mencapai sekitar 9 persen dalam 12 bulan terakhir. Seperti perusahaan IT India lainnya, Tech Mahindra menagih klien luar negeri dalam mata uang asing namun membayar sebagian besar biaya operasional dalam rupee. Hal ini secara otomatis meningkatkan pendapatan dalam denominasi rupee tanpa perubahan volume bisnis riil.
Meski pendapatan membaik, laba bersih perusahaan justru di bawah ekspektasi. Tech Mahindra membukukan laba 14,65 miliar rupee, naik 28,5 persen secara tahunan, namun masih di bawah perkiraan analis sebesar 15,63 miliar rupee. Tekanan pada margin kemungkinan berasal dari kenaikan biaya tenaga kerja dan investasi pada inisiatif baru. Namun, indikator ke depan menunjukkan optimisme: nilai pesanan baru bersih melonjak menjadi 1,08 miliar dolar AS dari 809 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Selama kuartal tersebut, Tech Mahindra mengumumkan kemitraan dengan Telefonica Jerman, Microsoft, dan platform robotika Viam. Langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk memperkuat posisinya di bidang solusi digital berbasis cloud dan kecerdasan buatan. Hasil positif Tech Mahindra juga mengikuti tren yang terlihat pada pesaing yang lebih besar, Tata Consultancy Services (TCS) dan HCLTech, yang pekan lalu melaporkan hasil kuartal pertama di atas ekspektasi berkat belanja teknologi yang kuat dari klien jasa keuangan.
Bagi Indonesia, kinerja Tech Mahindra menjadi indikator penting karena banyak perusahaan IT India berperan sebagai mitra pengembangan perangkat lunak bagi korporasi dan bank di Tanah Air. Pertumbuhan segmen manufaktur Tech Mahindra juga relevan dengan program hilirisasi dan digitalisasi industri manufaktur Indonesia yang tengah digalakkan pemerintah. Jika permintaan global terhadap layanan IT manufaktur terus meningkat, bukan tidak mungkin perusahaan India akan memperluas pusat pengembangan atau merekrut lebih banyak tenaga kerja di Indonesia untuk melayani klien regional.
Ke depan, Tech Mahindra perlu menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan margin dan ketidakpastian ekonomi global. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah divisi komunikasi dapat bangkit kembali seiring pemulihan belanja operator telekomunikasi, atau apakah perusahaan akan semakin mengandalkan segmen manufaktur dan kemitraan strategis untuk mendorong kinerja.



