Prabowo: Pemimpin Indonesia Bukan Naif, Keramahan Jangan Disalahartikan Kelemahan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa para pemimpin Indonesia tidaklah bodoh atau naif, melainkan cerdas dan berani dalam menghadapi dinamika global.
- Pernyataan itu disampaikan saat groundbreaking Proyek Gas Abadi Blok Masela di Maluku, menekankan prinsip politik luar negeri yang terbuka dan saling menguntungkan.
- Prabowo juga membantah stereotip bangsa yang malas, mengingatkan bahwa rakyat Indonesia bekerja keras dari subuh hingga larut, meski keramahan sering disalahartikan sebagai kelemahan.

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa para pemimpin Indonesia bukanlah sosok yang naif, bodoh, atau penakut. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada acara groundbreaking Proyek Gas Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7). Di tengah ketidakpastian global yang diwarnai konflik di berbagai belahan dunia, Prabowo menggarisbawahi bahwa Indonesia tetap menjadi negara yang damai dan mampu menjaga hubungan baik dengan semua tetangga.
Menurut Prabowo, kondisi dunia yang penuh gejolak justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan sikap terbuka terhadap semua mitra. "Kita bersahabat baik dengan seluruh negara tetangga, dan prinsip politik luar negeri kita menghormati semua negara. Kita terbuka kepada siapa pun yang mau bermitra dengan saling menguntungkan," ujarnya. Sikap ini, lanjutnya, merupakan warisan para pendiri bangsa yang menekankan bahwa Indonesia tidak memiliki musuh.
Namun, di balik keramahan dan keterbukaan itu, Prabowo menyadari masih ada pihak yang meremehkan bangsa Indonesia. Ia menyinggung bahwa keramahan sering disalahartikan sebagai kelemahan. "Kita dibilang bangsa yang santai, malas, bahkan pribumi disebut hobinya tidur. Padahal, rakyat kita berjuang keras setiap hariโnelayan mempertaruhkan nyawa di laut, petani berangkat ke sawah sebelum subuh, dan banyak yang bekerja hingga larut malam," tegasnya.
Prabowo juga mengkritik stereotip yang menganggap bangsa Indonesia pemalas. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan menghindari panas terik di siang hari bukanlah kemalasan, melainkan kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang. "Ada bangsa-bangsa yang tidak melihat bahwa rakyat kita bangun sangat pagi. Mereka yang ke sawah, ke ladang, mencari air, berburu, atau melaut saat gelap dan kembali saat gelap," paparnya. Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa Indonesia adalah negara yang lemah.
Dalam konteks domestik, pernyataan Prabowo ini relevan dengan upaya pemerintah menarik investasi asing, terutama di sektor energi seperti Blok Masela. Sikap terbuka dan tegas terhadap mitra internasional diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor. Namun, pesan Prabowo juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak akan tunduk pada tekanan asing dan tetap memegang prinsip saling menghormati.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah sikap tegas ini akan diikuti dengan kebijakan konkret yang melindungi kepentingan nasional, terutama dalam negosiasi kontrak energi dan perdagangan. Dengan dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia perlu menyeimbangkan antara keterbukaan dan kewaspadaan agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lain.



