Ekspektasi Inflasi Rumah Tangga Jepang Tembus Rekor, Tekanan pada BOJ Menguat
Baca dalam 60 detik
- Proporsi rumah tangga Jepang yang memperkirakan harga naik dalam setahun ke depan mencapai 90,4%, tertinggi sejak 2006.
- Ekspektasi inflasi rata-rata rumah tangga melonjak ke 13,1%, didorong oleh pelemahan yen dan kenaikan biaya impor.
- Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga lagi dalam beberapa bulan mendatang untuk mengendalikan tekanan harga.

Ekspektasi inflasi rumah tangga Jepang meroket ke level tertinggi dalam sejarah, memperkuat sinyal bahwa Bank of Japan (BOJ) harus segera mengetatkan kebijakan moneternya meskipun tekanan terhadap perekonomian masih terasa. Survei kuartalan BOJ yang dirilis Kamis (16/7) menunjukkan 90,4% responden memperkirakan harga akan naik dalam setahun ke depan, melonjak dari 83,7% pada survei sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sejak data komparabel tersedia pada 2006.
Angka tersebut menjadi sorotan menjelang pertemuan kebijakan BOJ pada 30-31 Juli mendatang. Meskipun bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 1% bulan ini, para pengamat menilai risiko inflasi yang terus membesar membuat BOJ tidak bisa berpangku tangan. โKetika risiko kenaikan harga tinggi seperti sekarang, penundaan penyesuaian dukungan moneter justru bisa mewujudkan risiko tersebut dan membebani perekonomian,โ ujar Direktur Eksekutif BOJ Koji Nakamura di hadapan parlemen, Kamis.
Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 86,1% rumah tangga memperkirakan harga akan naik dalam lima tahun ke depan, naik dari 82,6% pada Maret dan merupakan level tertinggi dalam hampir dua dekade. Rata-rata ekspektasi inflasi tahunan rumah tangga mencapai 13,1%, jauh di atas inflasi aktual yang saat ini berada di kisaran 2%. Meskipun ekspektasi rumah tangga cenderung lebih tinggi karena dipengaruhi oleh harga kebutuhan sehari-hari, data ini tetap menjadi alarm bagi otoritas moneter.
Tekanan inflasi di Jepang tidak lepas dari faktor eksternal. Pelemahan yen yang signifikan terhadap dolar AS telah mendorong kenaikan biaya impor energi dan bahan baku, sementara konflik geopolitik global turut memperparah lonjakan harga grosir. Survei sebelumnya juga menunjukkan ekspektasi inflasi korporasi naik ke level rekor, mengindikasikan bahwa tekanan harga semakin meluas dari sisi produsen ke konsumen.
Dampak dari kenaikan biaya hidup mulai terasa pada optimisme ekonomi. Hampir separuh responden (49,9%) memperkirakan kondisi ekonomi akan memburuk dalam setahun ke depan, meningkat drastis dari 32,8% pada Maret dan menjadi yang tertinggi sejak krisis keuangan global 2008. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun inflasi tinggi, daya beli masyarakat justru tertekan.
Mantan anggota dewan gubernur BOJ, Seiji Adachi, memperkirakan bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga menjadi 1,25% antara Oktober dan Januari tahun depan. โDampak kenaikan harga impor akan terlihat pada inflasi konsumen sekitar musim gugur hingga musim dingin, memberikan alasan bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga,โ katanya. โHarga naik untuk berbagai barang, sehingga BOJ akan terus menekankan risiko overshoot inflasi.โ
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak rambatan kebijakan moneter global. Kenaikan suku bunga BOJ berpotensi memperkuat yen dan mengurangi tekanan depresiasi terhadap rupiah, namun di sisi lain dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Bank Indonesia perlu mencermati langkah BOJ sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana BOJ akan berani menaikkan suku bunga tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Dengan ekspektasi inflasi yang terus melonjak dan tekanan biaya hidup yang meningkat, bank sentral harus berjalan di atas tali tipis antara mengendalikan harga dan menjaga momentum pemulihan ekonomi pasca-pandemi.



