AS Perluas Serangan ke Iran Utara, Blokade Laut Kembali Diberlakukan
Baca dalam 60 detik
- Serangan AS menjangkau wilayah utara Iran dan sekitar Teheran untuk pertama kalinya, menandai eskalasi signifikan dalam konflik.
- Blokade laut yang diberlakukan kembali oleh AS memicu ancaman Iran untuk menghentikan seluruh ekspor energi dari Timur Tengah.
- Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz berpotensi berdampak pada inflasi global dan biaya energi di Indonesia.

Amerika Serikat memperluas jangkauan serangan militernya ke wilayah utara Iran pada Kamis dini hari, menargetkan instalasi militer di sekitar Teheran dan provinsi Semnan—pusat produksi rudal balistik serta program luar angkasa Iran. Langkah ini terjadi setelah Washington memberlakukan kembali blokade laut terhadap Republik Islam tersebut, yang langsung dibalas Teheran dengan rentetan rudal dan drone ke pangkalan AS di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Eskalasi ini mengoyak kesepakatan sementara yang sebelumnya meredam perang terbuka antara kedua negara. Dalam beberapa hari terakhir, serangan balasan telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai 300 lainnya menurut klaim pejabat Iran. Yang mengkhawatirkan, pertempuran kini berpusat di Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan minyak dunia—yang efektif ditutup Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.
Penutupan selat itu telah melambungkan harga minyak mentah Brent di atas 85 dolar AS per barel, naik lebih dari 15 persen dibandingkan sebelum konflik. Meski masih di bawah puncak 120 dolar AS, lonjakan ini memberi tekanan besar pada perekonomian global, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi bahan bakar dan pupuk, menggerus daya beli masyarakat.
Di tengah meningkatnya tekanan, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Akbar Velayati menyebut kendali atas Selat Hormuz sebagai "prestasi yang sangat berharga". Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan kesiapan negaranya untuk konfrontasi militer penuh jika AS tidak mematuhi kesepakatan sementara. Pasukan Garda Revolusi Iran bahkan mengeluarkan ancaman keras: "Ekspor minyak dan gas dari kawasan akan untuk semua atau tidak untuk siapa pun."
Presiden AS Donald Trump, yang menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu kongres November, kembali menegaskan bahwa Iran sebenarnya ingin berdamai. "Mereka tidak suka apa yang kami lakukan, dan mereka ingin menyelesaikannya. Kami akan lihat apakah kami menyelesaikannya atau kami menyelesaikannya sampai tuntas," ujarnya di US Army War College, Pennsylvania. Trump juga mengklaim Teheran membebaskan seorang warga negara AS yang ditahan sejak 2024 sebagai isyarat itikad baik, meski Iran belum mengonfirmasi.
Di sisi lain, militer AS menembaki kapal tanker minyak Belma berbendera Curacao yang menuju terminal ekspor utama Iran di Pulau Kharg. Setelah mengabaikan peringatan, pesawat AS melumpuhkan kapal dagang itu dengan rudal yang mengenai cerobong asapnya. Serangan lain menghantam barak Brigade Infanteri Mekanis ke-388 Iran di Provinsi Sistan dan Baluchestan, menewaskan tujuh tentara termasuk wajib militer.
Bagi Indonesia, konflik ini membawa risiko langsung. Selat Hormuz adalah jalur transit bagi sekitar 20 persen minyak mentah yang diimpor Indonesia. Jika blokade berkepanjangan, harga BBM bersubsidi bisa membengkak dan mendorong pemerintah untuk menyesuaikan anggaran energi. Di saat yang sama, ketidakstabilan kawasan Timur Tengah juga mengancam keselamatan tenaga kerja Indonesia yang tersebar di negara-negara Teluk.
Para analis memperingatkan bahwa membuka kembali Selat Hormuz secara paksa akan membutuhkan armada besar dan puluhan ribu tentara darat—sebuah prospek yang mahal dan berisiko. Sementara itu, blokade yang diberlakukan AS justru memperdalam krisis. Pertanyaannya, akankah eskalasi ini berujung pada perang terbuka yang tak terkendali, atau justru memaksa kedua pihak kembali ke meja perundingan?



