Protes Massal di Tokyo: Warga Jepang Tolak Anggaran Pertahanan yang Membengkak
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 27.000 orang turun ke jalan di depan Gedung Parlemen Jepang pada 10 Juli menentang rencana kenaikan belanja militer dan pengiriman senjata ke luar negeri.
- Aksi yang digagas kelompok sipil We Want Our Future (WWOF) ini menuntut agar anggaran negara dialihkan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk perang.
- Protes serempak terjadi di 44 prefektur dengan total 136 aksi, menandai gelombang perlawanan terbesar terhadap kebijakan pertahanan pemerintah Perdana Menteri Fumio Kishida.

Puluhan ribu warga Jepang memadati kawasan sekitar Gedung Parlemen di Tokyo pada 10 Juli lalu, menyuarakan penolakan keras terhadap rencana pemerintah yang hendak memperbesar anggaran pertahanan dan meningkatkan pengiriman persenjataan ke negara lain. Aksi yang digagas oleh kelompok sipil We Want Our Future (WWOF) ini menjadi puncak gelombang protes yang menjalar ke 44 prefektur, menandai resistensi terbesar terhadap kebijakan militeristik Perdana Menteri Fumio Kishida.
Menurut panitia, jumlah peserta di Tokyo mencapai sekitar 27.000 orang. Mereka membentangkan spanduk buatan tangan, menyalakan penlight, dan meneriakkan yel-yel seperti "Penghidupan rakyat terabaikan" serta "Lindungi penghidupan kami". Suasana semakin riuh ketika orator di atas panggung melontarkan kritik tajam, termasuk seruan "Jangan biarkan mereka merampas demokrasi" dan "Lindungi Konstitusi".
Seorang fotografer perempuan berusia 47 tahun dari Distrik Arakawa, Tokyo, tampak memegang bendera bertuliskan "Tidak untuk perang". Kepada wartawan, ia mengungkapkan kekesalannya: "Saya ingin pajak digunakan untuk budaya dan pendidikan, bukan dihambur-hamburkan untuk senjata." Pernyataan ini mencerminkan sentimen luas di kalangan masyarakat Jepang yang mulai resah dengan perubahan haluan kebijakan pertahanan negara.
Pemerintah Jepang di bawah Kishida memang tengah mendorong peningkatan belanja pertahanan secara signifikan, dari sekitar 1% PDB menjadi 2% dalam beberapa tahun ke depan, sebagai respons terhadap ketegangan regional dan tekanan dari sekutu, terutama Amerika Serikat. Langkah ini memicu kekhawatiran publik bahwa anggaran untuk layanan sosial, pendidikan, dan infrastruktur akan dikorbankan. Apalagi, Jepang juga berencana mengekspor peralatan militer ke negara-negara mitra, sebuah langkah yang kontroversial mengingat konstitusi pasifis pasca-Perang Dunia II.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai negara tetangga di kawasan Asia-Pasifik, perubahan postur pertahanan Jepang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan regional. Di sisi lain, pengalaman Jepang dalam menyeimbangkan kebutuhan keamanan dengan kesejahteraan rakyat bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia yang juga tengah memperkuat alutsista tanpa mengabaikan pembangunan manusia. Protes massal ini mengingatkan bahwa kebijakan pertahanan yang ambisius harus tetap berpijak pada aspirasi warga negara.
Ke depannya, tekanan publik diperkirakan akan terus menguji komitmen pemerintah Kishida. Apakah ia akan melunak dengan mengalokasikan lebih banyak dana untuk program sosial, atau justru mengeraskan sikap dengan dalih stabilitas kawasan? Jawabannya akan menentukan arah demokrasi Jepang dan pengaruhnya di panggung global.



