Skandal Berlian Vietnam: 28.000 Batu Mulia Diselundupkan, Perhiasan Terbesar Terseret
Baca dalam 60 detik
- Polisi Vietnam membongkar sindikat penyelundupan berlian senilai Rp 700 miliar yang melibatkan mantan direktur laboratorium sertifikasi PNJ.
- Lebih dari 30 orang ditangkap dan 1.239 berlian disita dalam penggerebekan di 20 lokasi, termasuk toko perhiasan dan rumah tersangka.
- Kasus ini membuka celah keamanan rantai pasok berlian global dan berpotensi berdampak pada regulasi impor batu mulia di Asia Tenggara.

Kepolisian Vietnam mengungkap jaringan penyelundupan berlian internasional yang melibatkan 28.000 batu mulia senilai hampir US$ 11 juta (sekitar Rp 175 miliar), dengan perusahaan perhiasan terbesar di negeri itu, Phu Nhuan Jewelry (PNJ), ikut terseret dalam pusaran penyelidikan.
Mantan direktur laboratorium sertifikasi PNJ, Dang Ngoc Thao, ditangkap awal bulan ini bersama lebih dari 30 tersangka lainnya yang diduga menjadi bagian dari sindikat yang beroperasi selama beberapa tahun. Kementerian Keamanan Publik Vietnam dalam pernyataan Selasa malam (16/7) mengonfirmasi penggerebekan di lebih dari 20 tempat, termasuk toko perhiasan dan kediaman para tersangka, yang sebagian besar berada di Kota Ho Chi Minh.
Menurut penyelidikan, Thao diduga memalsukan sertifikat berlian yang berasal dari India untuk dijual kembali di Vietnam. Modus operandinya meliputi penghapusan laser inscription asli dan menggantinya dengan tanda milik PNJ. Polisi telah menyita 1.239 berlian serta perhiasan lain yang tidak dapat dibuktikan asal-usulnya melalui dokumen resmi.
Kementerian menyebut para tersangka menggunakan "metode kriminal yang sangat canggih" untuk mendatangkan berlian dari India dan mengatur "transportasi ilegal" melalui Hong Kong ke Vietnam. Beberapa gerai yang terkait dengan penyelidikan dilaporkan tiba-tiba tutup, menurut media setempat.
PNJ, yang merupakan perusahaan perhiasan terdaftar di Bursa Efek Ho Chi Minh, merilis pernyataan mengakui penyelidikan terhadap mantan karyawannya, namun menegaskan bahwa "masalah ini menyangkut tanggung jawab hukum individu". Perusahaan juga mengklaim produk berlian yang disertifikasi oleh anak usahanya "sepenuhnya dapat dilacak dan berkualitas terjamin".
"Kasus ini membuka mata tentang kerentanan rantai pasok berlian di Asia Tenggara. Jika sertifikasi bisa dipalsukan dengan mudah, kepercayaan konsumen terhadap industri perhiasan bisa tergerus," ujar seorang analis industri perhiasan yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, skandal ini menjadi peringatan dini. Sebagai negara dengan industri perhiasan yang tumbuh pesat, terutama di sektor emas dan berlian impor, pengawasan terhadap sertifikasi batu mulia perlu diperketat. Otoritas terkait di Indonesia mungkin perlu mengevaluasi prosedur verifikasi asal-usul berlian impor untuk mencegah modus serupa. Apalagi, jalur perdagangan berlian dari India ke Asia Tenggara melalui Hong Kong juga kerap digunakan oleh pedagang Indonesia.
Ke depan, kasus ini berpotensi memicu reformasi regulasi di Vietnam dan negara tetangga. Pertanyaan besarnya: sejauh mana sindikat ini telah merembes ke pasar lain, dan apakah konsumen di Indonesia juga berpotensi membeli berlian ilegal tanpa sepengetahuan mereka?



