Gangguan Siber Lumpuhkan Rantai Pasok Makanan Beku Jepang, Restoran dan Ritel Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Akses ilegal ke sistem Nichirei Corp. menghentikan pengiriman makanan beku ke ribuan klien, memicu kelangkaan stok di berbagai jaringan restoran dan ritel Jepang.
- KFC Jepang, Kura Sushi, Aeon, dan Don Quijote melaporkan gangguan pasokan, dengan beberapa gerai terancam tutup sementara atau mengurangi jam operasional.
- Insiden ini menyoroti kerentanan infrastruktur logistik pangan terhadap serangan siber, menjadi peringatan bagi industri serupa di Indonesia yang juga bergantung pada sistem terintegrasi.

Gangguan sistem akibat akses tidak sah ke jaringan perusahaan makanan beku terbesar Jepang, Nichirei Corp., mulai mengguncang rantai pasok nasional sejak Rabu (15/7). Sejumlah restoran dan peritel melaporkan kelangkaan stok, memicu kekhawatiran akan meluasnya dampak jika pemulihan sistem tak segera dilakukan.
Nichirei, yang melayani sekitar 5.000 klien bisnis, mengumumkan kegagalan sistem pada Senin lalu. Menurut juru bicara perusahaan, gangguan tersebut memengaruhi pengiriman produk beku serta operasi bongkar muat di gudang berpendingin. โKami belum bisa memastikan kapan sistem akan pulih. Investigasi masih berlangsung,โ ujarnya.
Dampak langsung dirasakan oleh Kentucky Fried Chicken (KFC) Jepang, yang menggandeng Nichirei untuk distribusi bahan baku. Pada Selasa, jaringan fast-food itu menyatakan kemungkinan penutupan sementara beberapa gerai dari total lebih dari 1.300 toko di seluruh negeri. KFC Jepang juga menghentikan sementara pemesanan melalui aplikasi dan situs resmi, serta mempertimbangkan pemangkasan jam operasional. Situasi disebut masih โfluktuatifโ mulai Rabu.
Tak hanya KFC, operator sushi populer Kura Sushi Inc. melaporkan gangguan pengiriman beberapa bahan baku sushi dan produk beku lainnya pada Rabu. Sejumlah pengiriman gagal tiba, memaksa restoran menyesuaikan menu. Sementara itu, jaringan supermarket di bawah Aeon Co. dan gerai diskon Don Quijote yang dikelola Pan Pacific International Holdings Corp. juga mencatat kekurangan stok barang tertentu.
Insiden ini mengingatkan pada serangan siber terhadap JBS Foods pada 2021 yang sempat melumpuhkan produksi daging di Amerika Utara dan Australia. Bedanya, kasus Nichirei menimpa perusahaan logistik rantai dingin yang menjadi tulang punggung distribusi pangan beku Jepang. Para analis menilai bahwa ketergantungan pada satu penyedia jasa logistik membuat rantai pasok rentan terhadap gangguan tunggal.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga. Industri makanan beku dan logistik rantai dingin di Tanah Air tengah tumbuh pesat, dengan banyak perusahaan mulai mengadopsi sistem manajemen gudang dan pengiriman berbasis cloud. Jika keamanan siber tidak diperkuat, risiko gangguan serupa bisa mengancam pasokan bahan pangan, terutama menjelang hari raya atau musim liburan ketika permintaan melonjak.
Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa siap industri logistik Indonesia menghadapi ancaman siber? Dengan makin terintegrasinya sistem digital, investasi pada keamanan informasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar rantai pasok tetap berjalan tanpa hambatan.



