Gencatan Senjata Gaza di Ujung Tanduk: Serangan Israel Tewaskan Satu Keluarga, Negosiasi Fase Kedua Mandek
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Israel di Deir Al-Balah dan Gaza City menewaskan empat warga Palestina, termasuk seorang anak berusia enam tahun, di tengah kebuntuan negosiasi fase kedua gencatan senjata.
- Lebih dari 1.100 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober lalu, sementara Israel terus memperluas pendudukan efektif hingga 60% wilayah Jalur Gaza.
- Indonesia termasuk dalam lima negara yang berkomitmen mengirim pasukan ke Pasukan Stabilisasi Internasional, namun pengiriman tertunda karena negosiasi politik yang alot.

Serangan udara Israel kembali memakan korban jiwa di Jalur Gaza, menewaskan empat orang termasuk seorang anak perempuan berusia enam tahun, saat negosiasi untuk mengimplementasikan fase kedua kesepakatan damai yang ditengahi Amerika Serikat justru mengalami kebuntuan. Peristiwa ini menegaskan kerapuhan gencatan senjata yang telah berlangsung sejak Oktober lalu.
Menurut petugas medis setempat, serangan pada Rabu (15/7) menghantam sebuah gedung apartemen di Deir Al-Balah, Gaza tengah. Omar Abu Qassem, istrinya Asma, dan putri mereka Habeeba (6) tewas seketika. Seorang putra mereka selamat namun mengalami luka-luka. Militer Israel mengklaim serangan itu menargetkan seorang militan Hamas. Di lingkungan Sheikh Radwan, Gaza City, serangan terpisah menewaskan satu orang lainnya; militer Israel belum memberikan komentar.
Kematian ini menambah daftar panjang korban sejak gencatan senjata mulai berlaku. Otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.100 warga Palestina, mayoritas warga sipil, tewas akibat serangan Israel dalam sembilan bulan terakhir. Di sisi lain, empat tentara Israel dilaporkan tewas oleh militan di Gaza pada periode yang sama. Gencatan senjata yang seharusnya menghentikan pertempuran besar nyatanya gagal mencegah serangan harian Israel.
Kekerasan terbaru ini terjadi setelah para pemimpin Hamas menyelesaikan putaran perundingan gencatan senjata lainnya di Kairo pada Selasa (14/7). Diskusi yang dimediasi oleh Mesir, Turki, dan Qatar itu bertujuan mengimplementasikan fase kedua dari rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump. Fase kedua mencakup pelucutan senjata Hamas, penarikan penuh militer Israel dari Jalur Gaza, pembentukan komite teknokrat Palestina yang didukung AS, pengerahan pasukan keamanan internasional, serta rekonstruksi Gaza.
Namun, sumber-sumber dekat perundingan mengungkapkan bahwa kemajuan hampir nihil akibat ketidakpercayaan yang mendalam antara kedua belah pihak. Hamas bersikeras bahwa fase kedua tidak bisa dimulai sebelum ketentuan fase pertama dipenuhi, termasuk penarikan Israel ke garis "kuning" yang telah disepakati. Kenyataannya, Israel justru terus memajukan pasukannya dan kini secara efektif menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza.
Dalam perkembangan yang relevan bagi Indonesia, Nickolay Mladenov, utusan Dewan Perdamaian untuk Gaza, menyatakan dalam pertemuan donor di Brussel bahwa ia akan mengunjungi Maroko untuk menandatangani kontribusi negara itu bagi Pasukan Stabilisasi Internasional. Indonesia, bersama Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania, telah berkomitmen menyediakan pasukan. Namun, hingga kini belum ada satu pun personel yang dikerahkan karena negosiasi antara Dewan Perdamaian Trump dan Hamas mandek berbulan-bulan. Bagi Indonesia, keterlibatan dalam misi ini merupakan langkah diplomasi konkret di kawasan Timur Tengah, namun juga membawa risiko keamanan yang perlu diantisipasi.
Ketegangan juga terlihat dalam pernyataan para pejabat. Mladenov menilai gencatan senjata Oktober berjalan "tidak sempurna" dengan pelanggaran yang terus terjadi, dan menuduh Hamas belum menyetujui "peta jalan" negosiasi. Sebaliknya, pejabat Hamas Basem Naim menuduh Mladenov memihak posisi Israel dan gagal mengadili Israel atas pelanggaran gencatan senjata serta tidak memenuhi ketentuan fase pertama rencana Trump.
Di tengah kebuntuan politik, kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan. Hampir seluruh dari 2 juta penduduk Gaza, yang sebagian besar telah mengungsi berkali-kali, kini hidup di sebidang tanah sempit di sepanjang pantai, bertahan di tenda-tenda darurat atau bangunan rusak di bawah kendali Hamas. Dengan negosiasi yang berlarut-larut dan kekerasan yang terus berlanjut, apakah fase kedua perdamaian Gaza hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi?



