Topan Bavi Paksa Evakuasi 260.000 Jiwa di China, Pertanda Siklon Ekstrem Menguat
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 260.000 warga Liaoning, China timur laut, mengungsi akibat Topan Bavi yang membawa banjir bandang dan angin kencang.
- Topan ini bertahan 13 hari dengan struktur hangat yang utuh, menjadikannya siklon tropis terlama di Asia Pasifik tahun ini.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan risiko cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang meningkatkan intensitas badai di kawasan.

Topan Bavi, badai terkuat yang menerjang daratan China tahun ini, memaksa lebih dari 260.000 jiwa meninggalkan rumah mereka di Provinsi Liaoning, China timur laut. Otoritas setempat melaporkan banjir besar dan gangguan infrastruktur yang melumpuhkan aktivitas di sejumlah kota.
Badan meteorologi China memperingatkan hujan lebat masih akan berlanjut, dengan curah hujan ekstrem di beberapa wilayah. Bavi menarik massa udara lembab dalam jumlah besar ke utara, menciptakan aliran udara basah yang terus-menerus ke China utara. Di Shenyang, ibu kota Liaoning, sebuah mercusuar terlepas dari kabel listrik tegangan tinggi dan hanyut di tengah banjir di jalan-jalan utama, seperti terlihat dalam video yang beredar di media sosial.
Seluruh sekolah dan lembaga pelatihan diperintahkan libur, sementara layanan transportasi di kota-kota timur laut seperti Shenyang dan Jilin sebagian besar lumpuh. Badai ini juga mengganggu pasokan listrik dan komunikasi di beberapa daerah.
Bavi, yang luasnya setara dengan wilayah Perancis, terbentuk di Samudra Pasifik 13 hari lalu. Struktur siklonnya tetap utuh bahkan setelah mencapai daratan China timur pada Sabtu malam, menjadikannya siklon tropis dengan durasi terlama di kawasan Asia Pasifik tahun ini. Menurut para ahli meteorologi, umur panjang Bavi disebabkan oleh inti hangat yang terpelihara dengan baik, memungkinkan badai mempertahankan sebagian besar kelembabannya saat bergerak ke utara menuju Semenanjung Korea.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi Indonesia yang berada di jalur siklon tropis. Meskipun jarang terkena dampak langsung, perubahan iklim global meningkatkan frekuensi dan intensitas badai di Pasifik Barat. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyatakan bahwa pemanasan suhu laut dapat memperkuat siklon tropis yang terbentuk di sekitar Indonesia, berpotensi memicu cuaca ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang di beberapa wilayah.
Dampak Bavi juga menyoroti kerentanan infrastruktur perkotaan terhadap banjir bandang. Di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya menghadapi risiko serupa, terutama saat musim hujan. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem drainase dan kesiapsiagaan bencana untuk menghadapi kemungkinan badai yang lebih kuat di masa depan.
Ke depan, para ilmuwan memperkirakan siklon tropis akan semakin sering terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah siap menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang kian nyata?



