Pertumbuhan Ekonomi China Melambat, Target Tahunan Terancam Gagal
Baca dalam 60 detik
- PDB China kuartal II-2025 hanya tumbuh 4,3%, di bawah target pemerintah yang direvisi menjadi 4,5%-5%.
- Perang Iran mendorong kenaikan harga minyak dan menekan permintaan domestik, meski ekspor masih kuat.
- Lesunya properti dan belanja konsumen menjadi hambatan struktural, sementara Indonesia perlu waspada terhadap dampak perlambatan mitra dagang utama.

Perekonomian China mencatat pertumbuhan terendah dalam lebih dari tiga dekade pada kuartal kedua tahun ini, mengirim sinyal peringatan bagi pasar global dan mitra dagang seperti Indonesia. Produk domestik bruto (PDB) Negeri Tirai Bambu hanya mengembang 4,3% pada periode April–Juni 2025, meleset dari target tahunan yang sudah dipangkas pemerintah menjadi 4,5%–5%.
Angka tersebut menjadi yang pertama sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari lalu, yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan memperlemah permintaan domestik China. Meski ekspor masih menunjukkan ketangguhan—melonjak 27% pada Juni dibanding tahun lalu—tekanan dari dalam negeri justru semakin nyata. Sektor properti yang sudah lama terpuruk belum menunjukkan tanda pemulihan berarti, sementara belanja konsumen baru tumbuh tipis 1% pada Juni setelah terkontraksi 0,6% di bulan sebelumnya.
Pemerintah China sebenarnya telah mengantisipasi perlambatan dengan menurunkan target pertumbuhan tahunan menjadi kisaran 4,5%–5% pada Maret lalu—level terendah sejak 1991. Langkah ini, menurut sejumlah analis, memberi ruang bagi Beijing untuk mengelola ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, capaian kuartal kedua yang berada di bawah batas bawah kisaran tersebut menimbulkan pertanyaan baru tentang efektivitas stimulus yang digulirkan.
Di sisi lain, data ekspor menunjukkan sisi cerah. Permintaan global yang melonjak untuk semikonduktor—terutama untuk pusat data kecerdasan buatan (AI)—telah mendongkrak pengiriman teknologi China. Lebih dari itu, ekspor kendaraan listrik (EV) China menembus rekor satu juta unit per bulan untuk pertama kalinya, menandai dominasi yang semakin kokoh di pasar otomotif dunia.
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi China menjadi alarm tersendiri. Sebagai mitra dagang terbesar, penurunan permintaan dari China berpotensi menekan ekspor komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit. Di sisi lain, membanjirnya produk China—khususnya EV dan elektronik—ke pasar global juga bisa memperketat persaingan bagi industri dalam negeri. “Indonesia perlu mengantisipasi dampak ganda: pelemahan permintaan ekspor dan tekanan kompetisi dari produk China yang semakin agresif,” ujar seorang ekonom dari lembaga riset Jakarta, yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah Beijing mampu membalikkan tren perlambatan ini. Stimulus fiskal dan moneter terus digencarkan, namun efektivitasnya masih diuji oleh krisis properti yang berkepanjangan dan kepercayaan konsumen yang rendah. Dengan target pertumbuhan yang sudah tipis, China mungkin harus menerima kenyataan bahwa era pertumbuhan dua digit telah berakhir—sebuah transisi yang akan dirasakan seluruh rantai pasok global, termasuk Indonesia.



