Jakarta Terpilih Jadi Tuan Rumah Perdana Harmony in Diversity Award 2026
Baca dalam 60 detik
- Ibu kota Indonesia resmi menjadi penyelenggara pertama ajang penghargaan keberagaman tingkat ASEAN yang digelar pada Juli 2026.
- Penghargaan tahun ini dianugerahkan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo atas perannya dalam mediasi konflik di Mindanao melalui dialog lintas agama.
- Acara ini dihadiri sejumlah tokoh regional, termasuk mantan Presiden Singapura Halimah Yacob dan dua mantan Menlu RI, menandai pengakuan atas komitmen Jakarta terhadap toleransi.

Jakarta resmi ditunjuk sebagai kota pertama yang menjadi tuan rumah Harmony in Diversity Award 2026, ajang anugerah keberagaman tingkat Asia Tenggara yang berlangsung pada 14โ15 Juli 2026. Penunjukan ini menempatkan ibu kota Indonesia sebagai pusat perayaan toleransi dan persatuan di kawasan yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial dan politik.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam sambutannya pada acara Welcoming Dinner di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Selasa malam (14/7), menekankan bahwa ajang ini merupakan komitmen kolektif untuk memperkuat perdamaian, persahabatan, dan persatuan warga di seluruh Asia Tenggara. "Di tengah kondisi dunia yang semakin kompleks, acara ini menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian antarsesama," ujarnya.
Pramono juga menyoroti bahwa Jakarta telah lama menjadi rumah bagi keberagaman. Kebijakan pemerintah provinsi dalam memfasilitasi berbagai perayaan keagamaan dan budayaโmulai dari Christmas Carol Kolosal, perayaan Imlek, parade Ogoh-ogoh, Jakarta Bedug Kolosal, hingga Waisakโmenjadi bukti nyata komitmen tersebut. "Keberagaman adalah sumber kekuatan utama Jakarta," tegasnya.
Pada edisi perdana ini, penghargaan dianugerahkan kepada Kardinal Orlando Beltran Quevedo, tokoh asal Filipina yang dikenal luas atas perannya dalam memediasi konflik di Mindanao. Melalui inisiatif Bishops-Ulama Conference, ia berhasil menjembatani dialog antara pemimpin agama dan komunitas di wilayah yang dilanda ketegangan. Kiprahnya menjadi contoh nyata bahwa dialog lintas agama dan komunitas mampu membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Acara jamuan makan malam tersebut juga menjadi ajang pertemuan para tokoh berpengaruh di Asia Tenggara. Hadir antara lain mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, Founder and Chair of 5P Global Movement Arsjad Rasjid, serta dua mantan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi dan Marty Natalegawa. Kehadiran mereka menegaskan dukungan regional terhadap upaya memperkuat harmoni di tengah keberagaman.
Bagi Indonesia, penyelenggaraan ajang ini memiliki arti strategis. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial di berbagai negara, Jakarta menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan diwujudkan dalam kebijakan publik. Langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai poros perdamaian dan dialog antarbudaya di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, Harmony in Diversity Award diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang mendorong lebih banyak inisiatif serupa di tingkat regional. Pertanyaannya, akankah momentum ini mampu menginspirasi negara-negara ASEAN lain untuk lebih serius mengelola keberagaman sebagai aset, bukan sebagai sumber konflik?



