BTN Targetkan Paylater Meluncur Tahun Ini, Sedang Ajukan Izin ke Regulator
Baca dalam 60 detik
- BTN tengah mengajukan izin paylater ke OJK dan BI, menargetkan peluncuran tahun ini.
- Produk akan terintegrasi dengan superapp Bale, menandai ekspansi BTN ke layanan gaya hidup.
- Belanja modal IT BTN naik 10-15% tahun ini, mendukung pengembangan sistem paylater.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) memastikan produk buy now pay later (BNPL) atau paylater masih dalam proses perizinan, namun optimistis bisa meluncur sebelum tahun 2026 berakhir. Langkah ini menjadi bagian dari strategi bank pelat merah tersebut untuk keluar dari zona nyaman pembiayaan perumahan dan merambah layanan konsumer yang lebih luas.
Direktur IT BTN, Tan Jacky Chen, mengungkapkan bahwa saat ini pengembangan sistem paylater berjalan paralel dengan pengajuan izin. "Secara bisnis sedang dilakukan pengajuan untuk perizinan dari sisi paylater," ujarnya di Jakarta, Selasa (14/7). Ia menambahkan bahwa aspek regulasi, kepatuhan, dan tata kelola produk juga tengah diperkuat.
BTN menargetkan paylater ini akan terintegrasi dengan superapp Bale, yang selama ini menjadi andalan bank dalam melayani nasabah. Menurut Jacky, Bale akan menjadi pintu masuk bagi berbagai layanan, termasuk paylater. "Island-island yang dimiliki dari consumer, dari lending, nanti gateway-nya masuk lewat Bale," jelasnya.
Plafon paylater akan disesuaikan dengan profil dan segmen masing-masing nasabah. BTN belum merinci besaran limit atau skema bunga, namun memastikan bahwa setiap pengguna akan mendapatkan penawaran yang berbeda berdasarkan kelayakan kredit. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko kredit macet yang kerap membayangi industri paylater.
Sebelumnya, pada Februari lalu, Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, menyatakan bahwa persetujuan OJK telah diperoleh dan proses di BI sedang berjalan. Saat itu ia menargetkan peluncuran pada triwulan I-2026, namun realisasinya molor. Kini BTN membidik peluncuran di tahun yang sama, tanpa menyebut bulan spesifik.
Masuknya BTN ke bisnis paylater menandai perubahan strategi besar. Selama ini bank BUMN tersebut identik dengan kredit pemilikan rumah (KPR). Dengan paylater, BTN ingin menjaring nasabah yang lebih muda dan melek digital, sekaligus meningkatkan frekuensi transaksi melalui Bale. Persaingan di sektor paylater kian ketat, dengan pemain seperti GoPay Later, Shopee PayLater, dan Kredivo sudah lebih dulu menguasai pasar.
Dari sisi investasi teknologi, BTN mengalokasikan capex IT yang lebih besar tahun ini. Jacky menyebutkan peningkatan 10-15% dibanding tahun sebelumnya, dengan serapan sudah melampaui 50%. "Penyerapan akan semakin tinggi di akhir tahun," katanya. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan sistem paylater dan penguatan infrastruktur digital Bale.
Ke depan, keberhasilan BTN dalam merilis paylater akan sangat bergantung pada kecepatan izin BI dan kemampuan bersaing dengan pemain existing. Jika terlambat, BTN harus berjuang lebih keras merebut pangsa pasar yang sudah terbentuk. Pertanyaannya, mampukah bank pelat merah ini mengejar ketertinggalan di tengah gempuran fintech dan bank swasta?



