Topan Bavi Mendekat, Kim Jong Un Perintahkan Kewaspadaan Maksimal
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi diperkirakan melemah menjadi tekanan rendah saat melintasi Korea Utara, dengan curah hujan mencapai 200 mm di wilayah selatan.
- Infrastruktur yang lemah dan krisis listrik kronis membuat Korea Utara rentan terhadap bencana alam, diperparah oleh perubahan iklim dan El Nino.
- Bencana serupa di masa lalu, seperti banjir 2024, menimbulkan korban jiwa besar, namun data resmi seringkali tidak transparan.

Pemerintah Korea Utara mengeluarkan peringatan dini terkait datangnya Topan Bavi yang diperkirakan akan membawa hujan lebat dan angin kencang pada Selasa (14/7). Pemimpin Kim Jong Un secara langsung memerintahkan seluruh aparat dan warga untuk meningkatkan kewaspadaan maksimal guna meminimalkan kerusakan.
Menurut laporan harian Partai Buruh, Rodong Sinmun, topan yang mendekat dari Laut Kuning diprediksi akan melemah menjadi sistem tekanan rendah saat melintasi wilayah tengah Semenanjung Korea. Badan meteorologi setempat telah mengeluarkan peringatan dini, dengan perkiraan curah hujan antara 80 hingga 120 milimeter di bagian utara dan tengah, sementara wilayah selatan berpotensi diguyur hujan 150โ200 milimeter. Kecepatan angin di pesisir barat diperkirakan mencapai 10โ15 meter per detik.
Kerentanan Korea Utara terhadap bencana alam sangat tinggi akibat infrastruktur yang buruk dan ekonomi yang terisolasi. Negeri itu juga mengalami krisis listrik kronis, sehingga sebagian besar warga tidak memiliki akses ke pendingin udara. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino yang kembali muncul tahun ini, meningkatkan risiko cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir bandang.
Di Korea Selatan, hujan deras juga melanda beberapa wilayah, dengan curah hujan mencapai 200 mm di sebagian area. Ratusan warga di Provinsi Chungcheong tengah dievakuasi atau terdampar akibat banjir. Seorang pria berusia 70-an dilaporkan hilang terseret arus sungai yang meluap di Gyeongsang selatan. Badan Meteorologi Korea Selatan memperkirakan hujan akan berlangsung hingga Rabu (15/7), dengan intensitas tinggi di wilayah tengah dan Provinsi Jeolla.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia membuat cuaca ekstrem semakin sering, berkepanjangan, dan intens. Musim panas lalu tercatat sebagai yang terpanas di Korea Selatan, sementara Juni lalu menjadi bulan terpanas bagi kedua Korea. Fenomena El Nino tahun ini menambah lapisan risiko baru.
Bagi Indonesia, pola cuaca ekstrem di Semenanjung Korea menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Meskipun secara geografis tidak terpengaruh langsung, perubahan iklim global dan fenomena El Nino juga berdampak pada musim kemarau dan hujan di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan potensi kekeringan dan gelombang panas di sejumlah wilayah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana Korea Utara mampu melindungi warganya dari dampak topan ini, mengingat keterbatasan sumber daya dan sistem peringatan dini yang minim. Pengalaman banjir besar tahun lalu, yang menurut laporan media Korea Selatan menewaskan hingga 1.500 orang, menunjukkan betapa rentannya negara tersebut terhadap bencana alam. Namun, tanpa transparansi data, skala sebenarnya kerap sulit diverifikasi.



