Veteran Perang Argentina Imbau Suporter Tak Campurkan Politik dalam Laga Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Federasi veteran perang Argentina meminta suporter tidak menjadikan laga kontra Inggris sebagai ajang klaim kedaulatan atas Kepulauan Malvinas.
- Pertandingan semifinal Piala Dunia 2024 ini berlangsung di tengah sejarah sengketa wilayah yang menewaskan ratusan tentara pada 1982.
- Pemain dan pelatih kedua tim sepakat bahwa laga ini murni pertandingan sepak bola, bukan ulangan konflik bersenjata.

Federasi veteran perang Argentina menyerukan kepada para pendukung timnas untuk tidak mencampuradukkan semangat sepak bola dengan agenda politik saat laga semifinal Piala Dunia melawan Inggris, Rabu (10/7) di Atlanta. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin (8/7), kelompok yang mewakili para veteran Perang Malvinas itu menegaskan bahwa pertandingan ini bukanlah ajang balas dendam bersenjata maupun kompensasi sejarah.
Argentina dan Inggris terlibat konflik singkat pada 1982 memperebutkan kepulauan di Atlantik Selatan yang oleh Inggris disebut Falklands dan oleh Argentina disebut Malvinas. Perang yang berlangsung selama 74 hari itu menewaskan 649 prajurit Argentina dan 255 personel militer Inggris. Hingga kini, Inggris masih mengklaim kedaulatan atas kepulauan tersebut dan mempertahankan kehadiran militernya, sementara Argentina terus memperjuangkan klaimnya melalui jalur diplomatik dan forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Federasi Veteran Perang 2 April—nama yang merujuk pada tanggal dimulainya invasi Argentina ke Malvinas—menyatakan bahwa kedaulatan harus dibela di forum internasional melalui diplomasi dan kebenaran sejarah, bukan di stadion. “Kami menganggap penting untuk menarik garis yang jelas dan tegas antara gairah olahraga dan perjuangan nasional,” bunyi pernyataan tersebut. “Bola bergulir, kebanggaan terhadap warna kami berlipat ganda, tetapi kenangan tetap utuh.”
Peringatan ini muncul di tengah hiruk-pikuk turnamen, di mana suporter Argentina kerap menyanyikan yel-yel yang menyebut Malvinas, Diego Maradona, dan upaya Lionel Messi mengakhiri karier internasionalnya dengan gelar juara dunia kedua. Namun, para pemain dan staf pelatih Argentina berusaha meredam rivalitas. Pelatih Lionel Scaloni menegaskan bahwa tidak ada yang dipertaruhkan selain sepak bola saat kedua tim bertemu. Penjaga gawang Inggris, Jordan Pickford, pun senada: “Ini hanya pertandingan sepak bola. Dua bangsa yang bangga. Sepak bola yang akan berbicara.”
Bagi Indonesia, rivalitas Argentina vs Inggris mungkin tidak memiliki muatan historis yang sama, namun pertandingan ini tetap menyita perhatian jutaan penggemar sepak bola Tanah Air. Momentum Piala Dunia sering kali menjadi ajang unjuk gigi kekuatan sepak bola global, dan laga semifinal ini diprediksi akan berlangsung sengit. Namun, pesan dari para veteran Argentina menjadi pengingat bahwa olahraga seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemecah belah. Ke depannya, akankah rivalitas sepak bola mampu tetap steril dari politik? Atau justru sebaliknya, stadion akan terus menjadi panggung klaim kedaulatan?



