Sopir Truk Crane Diduga Main HP, JPO Tendean Ambruk
Baca dalam 60 detik
- Truk pengangkut crane tersangkut JPO di Kapten Tendean, Jaksel, Selasa dini hari, diduga karena sopir bermain ponsel.
- BPBD Jakarta menyebut sopir melihat JPO tetapi fokus pada handphone sehingga tidak memperhitungkan tinggi muatan.
- Akibatnya, JPO rusak parah, lalu lintas macet, dan evakuasi truk masih berlangsung hingga pagi.

Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk pengangkut crane terjadi di Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (14/7) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Truk bernomor polisi B-9077-UFU tersebut tersangkut di jembatan penyeberangan orang (JPO) hingga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur pejalan kaki itu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta menduga kuat sopir truk tengah bermain ponsel saat kejadian.
Menurut keterangan BPBD, sopir sebenarnya menyadari keberadaan JPO di depannya. Namun, konsentrasinya terpecah karena fokus pada gawai. "Pengemudi melihat bahwasanya ada jembatan JPO, namun tanpa disadari pengemudi dalam kondisi fokus pada handphone," demikian pernyataan BPBD Jakarta, Selasa pagi. Akibat kelalaian itu, sopir gagal memperhitungkan tinggi muatan crane yang diangkut, sehingga bagian atas truk membentang keras struktur JPO.
Dampak benturan cukup parah. Salah satu tiang penyangga JPO nyaris roboh, dan anak tangga di jembatan tersebut tidak bisa digunakan. Hingga pagi hari, truk masih dalam posisi tersangkut dan belum berhasil dievakuasi. Petugas dari kepolisian dan dinas terkait masih berupaya menangani insiden ini. Arus lalu lintas di sekitar lokasi pun mengalami kemacetan panjang. Polisi melalui akun X @TMCPoldaMetro mengimbau pengendara untuk menghindari ruas jalan Kapten Tendean arah Santa.
Insiden ini kembali menyoroti masalah disiplin pengemudi kendaraan besar di jalan raya. Penggunaan ponsel saat mengemudi telah lama menjadi faktor utama kecelakaan, terutama bagi sopir truk yang membawa muatan berlebih atau berukuran besar. Di Indonesia, aturan mengenai larangan menggunakan ponsel saat berkendara sudah jelas, namun penegakan hukum masih lemah. Kasus seperti ini menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat, termasuk pemasangan kamera tilang elektronik di titik-titik rawan dan sosialisasi keselamatan berkendara bagi sopir angkutan berat.
Kejadian di Kapten Tendean juga mengingatkan pada serangkaian kecelakaan truk yang menabrak JPO di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, truk kontainer menabrak JPO di Cawang, dan tahun sebelumnya truk tangki merusak JPO di Tomang. Pola yang sama: muatan terlalu tinggi dan kurangnya kewaspadaan pengemudi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya mempertimbangkan pemasangan portal pembatas ketinggian di akses jalan yang dilalui truk, serta memperketat uji kir kendaraan angkutan.
Proses evakuasi truk crane yang masih tersangkut diperkirakan memakan waktu beberapa jam karena harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kerusakan tambahan pada JPO. Sementara itu, warga sekitar dan pengguna jalan berharap agar infrastruktur yang rusak segera diperbaiki. Pertanyaan yang mengemuka: akankah insiden ini menjadi momentum bagi perbaikan sistem keselamatan angkutan berat di Jakarta, atau hanya akan menjadi catatan kecelakaan lain yang terlupakan?



