IHSG Kembali ke 6.000, Asing Borong 10 Saham Ini
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,92% ke level 6.037,84 pada Senin (13/6/2026), didorong aksi beli asing di sejumlah saham unggulan.
- Meski investor asing mencatatkan jual bersih Rp437,66 miliar secara keseluruhan, mereka tetap mengakumulasi saham-saham tertentu, menandakan selektivitas di tengah volatilitas.
- Kembalinya IHSG ke level psikologis 6.000 menjadi sinyal optimisme pasar modal Indonesia, meskipun tekanan jual asing masih membayangi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil menembus kembali level psikologis 6.000 pada perdagangan Senin (13/6/2026), setelah sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Indeks acuan bursa saham nasional itu ditutup melesat 1,92% ke posisi 6.037,84, mencatatkan reli terkuat dalam sebulan terakhir.
Lonjakan ini diiringi oleh aktivitas transaksi yang cukup deras. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp12,14 triliun dengan volume 25,07 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,68 juta kali transaksi. Sebanyak 392 emiten berhasil mencatatkan kenaikan, sementara 268 saham lainnya tertekan dan 305 saham stagnan.
Menariknya, di tengah penguatan IHSG, investor asing justru mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp437,66 miliar di seluruh pasar. Rinciannya, aksi jual asing di pasar reguler mencapai Rp412,50 miliar, sedangkan di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp25,16 miliar. Namun, bukan berarti asing meninggalkan pasar modal Indonesia sepenuhnya. Sejumlah saham justru menjadi incaran mereka, menandakan adanya strategi rotasi portofolio.
Menurut data dari platform analisis saham Stockbit, terdapat sepuluh saham yang mencatatkan net foreign buy terbesar pada perdagangan kemarin. Saham-saham tersebut mayoritas berasal dari sektor perbankan, infrastruktur, dan konsumer, yang selama ini menjadi favorit investor global. Aksi beli asing ini menunjukkan bahwa meskipun secara agregat asing melepas kepemilikan, mereka tetap melihat peluang di emiten-emiten dengan fundamental kuat.
Kembalinya IHSG ke level 6.000 menjadi angin segar bagi pasar modal Indonesia yang sempat tertekan oleh sentimen global, seperti kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS dan ketidakpastian ekonomi global. Bagi investor domestik, momen ini bisa menjadi indikasi bahwa tekanan jual asing mulai mereda, setidaknya untuk sementara. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan mengingat volatilitas masih tinggi.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada data ekonomi domestik, seperti inflasi dan neraca perdagangan, serta kebijakan moneter global. Investor disarankan untuk mencermati saham-saham yang menjadi incaran asing, karena biasanya memiliki likuiditas dan fundamental yang lebih baik. Apakah reli ini akan berlanjut atau hanya sekadar technical rebound? Waktu yang akan menjawab.



