Jepang-Vietnam Sepakat Kembangkan Kapal Pendarat Cepat: Sinyal Baru Poros Maritim Asia
Baca dalam 60 detik
- Tokyo dan Hanoi memulai negosiasi produksi bersama kapal pendarat berkecepatan tinggi untuk memperkuat kerja sama pertahanan.
- Kesepakatan ini muncul di tengah kekhawatiran atas aktivitas militer China, termasuk uji coba rudal balistik dari kapal selam pada Juli lalu.
- Bagi Indonesia, poros pertahanan Jepang-Vietnam dapat mempengaruhi dinamika keamanan di Laut China Selatan dan mendorong diversifikasi aliansi regional.

Jepang dan Vietnam resmi memulai pembicaraan mengenai pengembangan dan produksi bersama kapal pendarat berkecepatan tinggi (high-speed landing craft), sebuah langkah yang menandai penguatan kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan regional. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan Menteri Pertahanan Vietnam Phan Van Giang di Tokyo, Senin (14/7).
Kedua menteri sepakat untuk memperluas kerja sama di sektor pertahanan, termasuk kemungkinan produksi bersama kapal tersebut. Koizumi secara khusus menyoroti aktivitas militer China sebagai "keprihatinan serius bagi komunitas internasional", merujuk pada uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam China pada 6 Juli lalu. Pernyataan ini menegaskan posisi Jepang yang semakin vokal dalam merespons ekspansi militer Beijing.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga menekankan pentingnya menghormati kebebasan navigasi dan penerbangan, serta menolak upaya sepihak untuk mengubah status quo melalui kekuatan atau paksaan yang tidak sesuai dengan tatanan internasional. Selain itu, mereka sepakat untuk mempromosikan kerja sama di bidang keamanan siber dan berkontribusi pada perdamaian serta stabilitas regional.
Menteri Giang menyambut baik langkah ini, dengan menyatakan, "Kami ingin mengubah pemahaman bersama mengenai kerja sama pertahanan yang dicapai para pemimpin kami menjadi tindakan konkret dan mengembangkan hubungan yang sesuai dengan kemitraan strategis komprehensif kami." Ia merujuk pada kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke Vietnam pada Mei lalu yang membuka jalan bagi peningkatan hubungan bilateral.
Sebelum pertemuan dengan Koizumi, Giang juga bertemu dengan Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara di kantor perdana menteri. Keduanya sepakat untuk berkoordinasi mengenai isu-isu regional, termasuk situasi di Timur Tengah serta program nuklir dan rudal Korea Utara. Hal ini menunjukkan bahwa kerja sama pertahanan Jepang-Vietnam tidak hanya terbatas pada aspek maritim, tetapi juga mencakup spektrum keamanan yang lebih luas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara yang juga memiliki kepentingan di Laut China Selatan, penguatan poros pertahanan Jepang-Vietnam dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Indonesia selama ini mengusung pendekatan non-blok dan diplomasi bebas aktif, namun realitas geopolitik mendorong perlunya menjalin kemitraan pertahanan yang lebih konkret. Kerja sama Jepang-Vietnam dalam pengembangan kapal pendarat cepat bisa menjadi model bagi Indonesia untuk memperkuat kemampuan amfibi dan patroli laut, terutama dalam menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia akan mengikuti jejak Vietnam dalam memperdalam kerja sama pertahanan dengan Jepang, atau justru memilih untuk tetap menjaga jarak demi menghindari ketegangan dengan China. Pilihan ini akan menentukan posisi Indonesia dalam peta keamanan regional yang semakin kompleks.



