Anak Pelaku Sekolah di SDN Srengseng Sawah: Fakta Baru di Balik Teror Bom
Baca dalam 60 detik
- Pelaku teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi ternyata memiliki anak yang bersekolah di tempat yang sama, memperkuat dugaan motif terkait kekecewaan pribadi.
- Penyisiran oleh Gegana, Densus 88, dan K9 memastikan tidak ada bom, namun MPLS terpaksa dibubarkan dan orang tua panik.
- Polisi masih mendalami apakah ada faktor lain di balik aksi pelaku, termasuk kemungkinan dendam terhadap pihak sekolah.

Teror ancaman bom yang mengguncang SDN Srengseng Sawah 15 Pagi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7) mengungkap fakta mengejutkan: pelaku berinisial MY (34) ternyata memiliki anak yang bersekolah di sekolah yang sama. Pengakuan ini disampaikan Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin dalam wawancara dengan CNNIndonesia TV, menambah lapisan baru dalam kasus yang sempat membuat panik orang tua dan siswa.
Menurut Iman, MY diamankan setelah mengirim pesan ancaman bom ke sekolah. Setelah diperiksa, diketahui bahwa anak pelaku juga merupakan siswa di SDN tersebut. Bahkan, pada pagi hari saat teror terjadi, MY sempat menjemput anaknya dari sekolah setelah pemberitahuan adanya ancaman. "Ini yang masih kami dalami, apakah ada faktor kekecewaan terhadap pihak sekolah," ujar Iman.
Teror ini terjadi di tengah masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi siswa baru. Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi mengonfirmasi bahwa kegiatan MPLS langsung dibubarkan setelah pesan ancaman diterima. "Orang tua siswa panik, kami koordinasikan semua pihak. Siswa sudah pulang," katanya. Situasi baru dinyatakan aman setelah tim Gegana, Densus 88, dan anjing pelacak K9 melakukan penyisiran selama empat jam.
Dari tangkapan layar yang beredar, pesan ancaman dikirim dua kali oleh pelaku. Karena tidak direspons, MY bahkan melakukan panggilan tidak terjawab (miscall). Isi pesan bernada mengancam: "SELAMAT PAGI DAN SALAM SEJAHTERA, DIHARAAP BERSIAP SIAP DENGAN HITUNGAN MENIT TEMPAT SEKOLAHAN SDN 15 PAGI INI AKAN MELEDAK DAN KAMI SUDAH MENYIAPKAN 11 TITIK...!!!" Ancaman ini sontak membuat warga sekolah dan sekitar cemas.
Kasus ini menyoroti kerentanan keamanan di lingkungan pendidikan, terutama di hari-hari pertama tahun ajaran. Meski tidak ada bom sungguhan, dampak psikologis terhadap siswa, guru, dan orang tua tidak bisa diabaikan. Polisi masih mendalami motif MY, termasuk kemungkinan adanya dendam pribadi terhadap sekolah. Pertanyaan besar yang tersisa: apakah tindakan tegas terhadap pelaku cukup untuk mencegah teror serupa di masa depan?



