Konflik Iran-AS Dorong Harga Minyak Melonjak, Saham Teknologi Asia Ambruk
Baca dalam 60 detik
- Serangan balasan antara AS dan Iran memicu kenaikan harga minyak global hingga level tertinggi dalam sebulan terakhir.
- Saham teknologi Asia, terutama SK Hynix, anjlok lebih dari 15 persen karena kekhawatiran gangguan rantai pasok dan eskalasi konflik.
- Eskalasi geopolitik ini berpotensi memperburuk tekanan inflasi dan mengganggu pemulihan ekonomi di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer, sementara bursa saham Asia justru terpuruk—dipimpin oleh kejatuhan saham raksasa semikonduktor Korea Selatan, SK Hynix, yang ambrol lebih dari 15 persen. Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah ini langsung mengguncang pasar keuangan global, dengan investor berbondong-bondong beralih ke aset safe haven.
Indeks saham Seoul menjadi yang terdepan dalam koreksi di Asia, terbebani oleh aksi jual besar-besaran terhadap SK Hynix. Perusahaan teknologi itu kehilangan seperenam nilai pasarnya dalam sehari, mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik bersenjata dapat memutus rantai pasok komponen elektronik yang sangat bergantung pada jalur logistik di kawasan Teluk. Saham teknologi lainnya di Jepang, Taiwan, dan China juga ikut tertekan, meski tidak separah rekan mereka di Korea.
Di sisi lain, harga minyak mentah acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melesat lebih dari 5 persen dalam perdagangan awal pekan ini. Kenaikan itu didorong oleh spekulasi bahwa pasokan minyak dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah bisa terganggu jika konflik meluas. Iran, yang merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), menguasai jalur strategis Selat Hormuz—titik transit sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Dampak langsung dari gejolak ini sudah terasa di Indonesia. Harga minyak yang lebih tinggi akan memperbesar beban subsidi energi dalam APBN, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak bersih. Kementerian Keuangan sebelumnya telah mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar Rp 500 triliun pada 2025, namun kenaikan harga minyak dapat memaksa pemerintah melakukan penyesuaian. Di sisi lain, investor asing mulai menarik dana dari pasar saham emerging market, termasuk Bursa Efek Indonesia, yang berpotensi menekan indeks IHSG.
Menurut analis pasar dari Mirae Asset Sekuritas, eskalasi konflik Iran-AS menciptakan ketidakpastian yang sulit diprediksi. “Investor kini dihadapkan pada dilema: harga minyak naik menguntungkan sektor energi, tetapi merugikan sektor manufaktur dan konsumen. Pasar saham teknologi sangat rentan karena margin mereka tipis dan rantai pasok global sudah rapuh pascapandemi,” ujarnya. Sementara itu, bank sentral di Asia, termasuk Bank Indonesia, kemungkinan akan menahan diri untuk tidak menurunkan suku bunga dalam waktu dekat demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada respons diplomatik negara-negara besar, termasuk China dan Uni Eropa, yang berusaha meredakan ketegangan. Jika konflik berlarut-larut, bukan tidak mungkin harga minyak menembus 100 dolar AS per barel dan memicu gelombang inflasi baru. Pertanyaan besarnya: mampukah pemerintah Indonesia menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga energi yang kian membara?



