Bulog Intensifkan Negosiasi Ekspor Beras ke Malaysia dan Singapura
Baca dalam 60 detik
- Bulog masih menunggu kesiapan Malaysia untuk menerima delegasi Indonesia dalam rangka finalisasi ekspor 200.000 ton beras.
- Ekspor 10.000 ton beras ke Singapura telah dibahas dalam pertemuan bilateral tingkat menteri pada akhir Juni lalu.
- Presiden Prabowo menekankan agar setiap kesepakatan ekspor beras tetap melindungi petani domestik dan kepentingan ekonomi nasional.

Badan Urusan Logistik (Bulog) terus melanjutkan perundingan dengan Malaysia dan Singapura terkait rencana ekspor beras Indonesia. Negosiasi yang berlangsung sejak beberapa bulan terakhir masih berkutat pada harga dan persyaratan komersial lainnya, dengan Malaysia menjadi mitra yang belum sepenuhnya siap menerima kunjungan delegasi Indonesia.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa pihaknya masih menunggu kesiapan Malaysia untuk menjadwalkan pertemuan tatap muka. Meski demikian, komunikasi terus dijaga agar proses negosiasi dapat dipercepat. "Kami belum ke sana karena mereka belum siap, tetapi kami terus mendorong agar mereka dapat menerima kami dan kita bisa mencapai kepastian harga yang disepakati," ujarnya dalam keterangan yang dikutip Antara, Senin (13/7).
Dalam perkembangan sebelumnya, Rizal menyebutkan bahwa ekspor 200.000 ton beras ke Malaysia masih dalam tahap negosiasi harga. Sementara itu, rencana ekspor 10.000 ton beras ke Singapura telah memasuki tahap lebih lanjut setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bertemu dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, di Jakarta pada 29 Juni lalu. Pertemuan tersebut membahas potensi kerja sama pangan bilateral, termasuk pasokan beras dari Indonesia.
Langkah ekspor ini mendapat perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Menurut Rizal, kepala negara telah memberikan instruksi tegas agar setiap perjanjian ekspor beras tidak merugikan petani dalam negeri dan sejalan dengan kepentingan ekonomi Indonesia secara luas. Arahan ini menjadi acuan utama Bulog dalam merumuskan skema harga dan volume yang akan disepakati.
Bagi Indonesia, ekspor beras ke negara tetangga bukan sekadar transaksi dagang, melainkan juga bagian dari diplomasi pangan regional. Malaysia dan Singapura selama ini menjadi importir beras utama di Asia Tenggara, dan kemampuan Indonesia untuk memasok kebutuhan mereka dapat memperkuat posisi tawar Jakarta dalam forum-forum regional. Namun, tantangan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekspor dan ketahanan pangan domestik.
Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menilai bahwa langkah Bulog patut diapresiasi selama tidak mengorbankan pasokan dalam negeri. "Indonesia harus memastikan bahwa stok beras untuk konsumsi domestik aman sebelum mengekspor. Jika tidak, kebijakan ini bisa kontraproduktif dan memicu kenaikan harga di dalam negeri," ujarnya.
Ke depan, keberhasilan negosiasi ini akan menjadi ujian bagi kemampuan Indonesia dalam mengelola surplus produksi beras sekaligus memperluas pasar ekspor. Apakah Bulog mampu menyelesaikan perundingan dengan harga yang menguntungkan petani dan tetap kompetitif di pasar internasional? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang.



