Teror Bom Palsu di SD Jakarasa: Pelaku Ternyata Wali Murid, Motif Masih Misteri
Baca dalam 60 detik
- Seorang wali murid berinisial MY (34) ditangkap polisi setelah mengirim ancaman bom ke SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarasa, melalui WhatsApp.
- Pelaku sempat menjemput anaknya di sekolah yang sama usai mengirim ancaman; polisi masih mendalami motif di balik aksi yang disebut hanya iseng.
- Pemeriksaan psikologi forensik dan metode scientific crime investigation akan diterapkan untuk mengungkap kemungkinan adanya faktor lain atau keterlibatan pihak lain.

Pengirim ancaman bom yang membuat geger SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7) ternyata adalah orang tua dari salah satu siswa di sekolah tersebut. Fakta ini terungkap setelah polisi meringkus MY (34) hanya beberapa jam setelah pesan ancaman dikirim melalui WhatsApp.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imannudin mengonfirmasi bahwa anak pelaku bersekolah di SD yang menjadi sasaran teror. "Setelah pelaku diamankan, ternyata anaknya juga bersekolah di sekolah tersebut," ujarnya kepada wartawan. Ironisnya, MY bahkan sempat datang ke sekolah untuk menjemput anaknya setelah mengirimkan ancaman, saat kegiatan belajar sudah dibubarkan dan seluruh siswa dipulangkan.
Dalam pemeriksaan awal, MY mengaku hanya iseng mengirim pesan ancaman. Namun, penyidik tidak begitu saja percaya. Motif di balik aksi nekat ini masih menjadi teka-teki, dan polisi menduga ada faktor lain yang mendorongnya. Ancaman bom dikirim tepat saat siswa dan guru mengikuti upacara pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Tim Gegana dan Densus 88 Antiteror langsung menyisir seluruh area sekolah, namun tidak menemukan bahan peledak atau benda mencurigakan.
Polisi tidak hanya menyelidiki motif, tetapi juga akan memeriksa kondisi kejiwaan MY. Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Alpino De Tech menyatakan bahwa penyidik akan melibatkan psikologi forensik dan menerapkan metode scientific crime investigation (SCI). "Untuk mengungkap dan menggali secara komprehensif motif maupun keterlibatan pelaku, kami akan memeriksa barang bukti digital, analisis forensik, serta pendekatan ilmiah lainnya," jelas Alpino.
Hingga kini, MY masih menjalani pemeriksaan intensif di Polres Metro Jakarta Selatan dan statusnya masih sebagai saksi. Penyidik terus mengumpulkan alat bukti sebelum menentukan langkah hukum selanjutnya. Kasus ini menyoroti betapa mudahnya ancaman teror menyebar di lingkungan pendidikan, serta pentingnya kewaspadaan dan penegakan hukum yang tegas. Pertanyaan yang mengemuka: apakah benar hanya iseng, atau ada dendam pribadi yang melatarbelakangi aksi yang mengganggu ketenangan dunia pendidikan ini?



