Marotta Sesalkan Pembelotan Palestra ke Chelsea: Agen Ikut Bermain
Baca dalam 60 detik
- Presiden Inter Beppe Marotta mengkritik keputusan Marco Palestra yang membatalkan kesepakatan lisan demi bergabung ke Chelsea.
- Marotta menyalahkan agen Palestra yang dinilai tidak mengarahkan kliennya untuk tetap setia pada komitmen awal.
- Inter masih mencari pengganti Denzel Dumfries setelah dua target utama gagal direkrut karena faktor eksternal.

Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, meluapkan kekesalannya atas kegagalan klub merekrut Marco Palestra, bek muda yang memilih hengkang ke Chelsea. Dalam konferensi pers, Marotta menegaskan bahwa pemain berusia 20 tahun itu telah mengingkari komitmen lisan yang sebelumnya disepakati dengan Nerazzurri. Ia pun menyoroti peran agen yang dinilai tidak netral dalam proses transfer tersebut.
Palestra, yang sempat menjadi prioritas utama Inter untuk menggantikan Denzel Dumfries, justru menerima tawaran Chelsea dua pekan lalu. Padahal, menurut Marotta, kedua pihak sudah mencapai kata sepakat secara verbal. "Ini adalah keputusan yang diambil pemain, yang mundur dari perjanjian lisan," ujar Marotta dalam jumpa pers di hari pertama pramusim Inter, Senin (19/7).
Marotta secara khusus menyoroti peran agen Palestra. Menurutnya, sang agen seharusnya bisa mengarahkan kliennya ke jalan yang berbeda, namun justru memilih jalur yang menguntungkan secara finansial. "Agen bisa mengarahkannya ke arah lain, tapi memilih jalan ini. Kami harus menerima kenyataan melihat pemain Italia lain pindah ke liga yang tidak bersaing langsung dengan kami," sindir Marotta, merujuk pada Premier League yang dianggap lebih superior secara ekonomi.
Kekecewaan Marotta tidak berhenti di situ. Dalam kesempatan yang sama, ia mengumumkan bahwa target kedua Inter, Anan Khalaili, gagal menjalani tes medis. Alhasil, transfer pemain asal Israel itu dari Union Saint-Gilloise senilai €25 juta resmi batal. "Kami harus mengendalikan biaya, bukan investasi. Maksud saya adalah pemain yang tidak bisa kami rekrut karena gaji terlalu tinggi dan agen yang pengaruhnya terhadap keuangan klub semakin signifikan," tegas Marotta.
Kegagalan beruntun ini menjadi ujian bagi Inter yang tengah bersiap menghadapi musim 2026-27. Setelah sukses meraih Scudetto ketiga di era Marotta—dan pertama sebagai presiden—Nerazzurri kini harus bekerja ekstra di bursa transfer. Dumfries telah dilego ke Real Madrid dengan nilai €20 juta, meninggalkan lubang di sektor sayap kanan yang belum terisi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Palestra menjadi cerminan bagaimana dominasi finansial klub-klub Premier League mampu memengaruhi keputusan pemain muda Italia. Fenomena ini kerap terjadi di Serie A, di mana klub-klub Italia kerap kehilangan talenta muda karena godaan gaji besar dari Inggris. Inter sendiri akan memulai musim baru dengan laga kandang melawan Monza pada 22 Agustus.
Ke depan, Inter harus lebih cermat dalam menjalin kesepakatan, terutama dengan pemain yang masih terikat agen oportunis. Pertanyaannya, mampukah Marotta dan timnya menemukan solusi di sisa bursa transfer? Ataukah Inter akan kembali menjadi 'pemasok' pemain untuk klub-klub kaya Eropa?



