Beijing Tunjukkan Kekuatan Militer di Pasifik: Sinyal Normalisasi atau Eskalasi?
Baca dalam 60 detik
- China menggelar serangkaian operasi militer dalam dua pekan, termasuk patroli udara bersama Rusia, latihan angkatan laut, dan uji coba rudal balistik dari kapal selam nuklir di Pasifik.
- Para analis menilai langkah ini merupakan upaya Beijing untuk membakukan aktivitas militernya di kawasan, sehingga kehadiran mereka dianggap biasa dan meningkatkan biaya bagi pihak yang menentang.
- Meski tidak terkoordinasi secara terpusat, berbagai operasi tersebut saling memperkuat pesan strategis China kepada AS dan sekutunya, terutama terkait Taiwan dan jalur pelayaran vital.

Dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, China melancarkan serangkaian operasi militer yang mencakup patroli bomber bersama Rusia di dekat Jepang, kehadiran kapal penjaga pantai di timur Taiwan, latihan angkatan laut gabungan dengan Moskow, serta uji coba rudal balistik dari kapal selam bertenaga nuklir yang mendarat di Samudra Pasifik. Rentetan aktivitas ini, menurut para analis, mencerminkan strategi Beijing untuk menjadikan operasi militer di berbagai domain sebagai hal yang rutin dan tidak lagi dianggap luar biasa.
Ben Brand, pendiri dan analis utama di Iron Command, sebuah lembaga intelijen pertahanan independen, menegaskan bahwa tujuan China bukanlah menciptakan krisis, melainkan normalisasi. "Beijing ingin kehadirannya di perairan ini menjadi sesuatu yang biasa, sehingga biaya untuk menantangnya akan meningkat seiring waktu," ujarnya. Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa langkah-langkah tersebut bukanlah bagian dari kampanye terkoordinasi tunggal. Masing-masing operasi digerakkan oleh dinas, badan, dan siklus perencanaan yang berbeda, dan belum ada bukti publik bahwa semuanya sengaja disinkronkan.
Yang membuat rentetan peristiwa ini signifikan, menurut para analis, adalah bagaimana untaian aktivitas yang terpisah dapat bertemu dan memperkuat pesan yang lebih besar tentang arah strategis Beijing. Isaac Kardon, profesor adjung di Sekolah Studi Internasional Lanjutan Universitas Johns Hopkins, menyebutnya sebagai "pertemuan luar biasa dari pertunjukan kekuatan militer China". Menurutnya, waktu dan intensitas aktivitas ini kemungkinan mencerminkan niat Beijing untuk bereaksi keras terhadap perkembangan regional yang dianggap merugikan, termasuk koordinasi keamanan yang semakin dalam di antara sekutu AS.
Aktivitas ini juga berlangsung bersamaan dengan latihan RIMPAC pimpinan AS di Hawaii, yang melibatkan puluhan negara. Hao Nan, fellow Nuclear Futures dari Ploughshares Fund dan Horizon 2045, menilai bahwa meskipun tidak ada bukti koordinasi terpusat, efek dari berbagai operasi ini "saling bertemu dan memperkuat". Ia menyebutnya sebagai "arah strategis yang koheren tanpa integrasi operasional yang terbukti". Brand menambahkan bahwa Beijing memanfaatkan "jendela latihan tahunan yang sudah padat untuk mengemas banyak sinyal dalam satu siklus berita".
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang bergantung pada jalur pelayaran di Pasifik dan Laut China Selatan, peningkatan aktivitas militer China berpotensi mengubah keseimbangan keamanan regional. Indonesia selama ini mengusung pendekatan bebas aktif dan mendorong diplomasi melalui ASEAN. Namun, jika normalisasi operasi militer China terus berlanjut, Jakarta mungkin harus menghadapi tekanan yang lebih besar untuk menentukan sikap, terutama dalam menjaga kedaulatan ZEE dan kebebasan navigasi. Kardon memperingatkan bahwa jika penjaga pantai China terus berada di timur Taiwan dalam beberapa bulan ke depan, hal itu bisa menjadi indikasi tindakan penegakan hukum yang lebih agresif, yang berpotensi memicu krisis dengan Taiwan, Jepang, atau Filipina.
Ke depan, para analis akan mencermati apakah pola ini akan mengeras menjadi doktrin atau mereda seiring berakhirnya musim latihan musim panas. "Satu uji coba adalah sinyal. Irama adalah doktrin," kata Brand. Jika China terus melanjutkan patroli penjaga pantai di timur Taiwan dan uji coba rudal balistik dari kapal selam, hal itu akan menjadi indikasi keseriusan Beijing untuk mengintensifkan tekanan. Di sisi lain, Hao menekankan bahwa stabilitas kawasan juga bergantung pada kemampuan lembaga regional seperti ASEAN untuk mencegah rivalitas AS-China menjadi siklus yang memperkuat diri sendiri. Pertanyaannya, mampukah diplomasi dan mekanisme regional membendung gelombang normalisasi militer yang kian nyata?



