NasDem Dorong Friedrich Silaban, Arsitek Istiqlal, Menyandang Gelar Pahlawan Nasional
Baca dalam 60 detik
- Fraksi NasDem DPR menginisiasi usulan pengangkatan Friedrich Silaban sebagai pahlawan nasional, mengapresiasi kontribusinya pada arsitektur ikonik Indonesia.
- Silaban, arsitek Masjid Istiqlal, juga merancang Monas, GBK, dan Gedung BI, yang dinilai merepresentasikan semangat keindonesiaan.
- Proses usulan akan melalui koordinasi dengan Kemensos dan Kemendikbud sebelum disampaikan ke Presiden, disambut baik oleh keluarga.

Fraksi Partai NasDem di Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan agar Friedrich Silaban, arsitek di balik megahnya Masjid Istiqlal, dianugerahi gelar pahlawan nasional. Langkah ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas jasa sang arsitek dalam mewujudkan simbol-simbol kebangsaan melalui karya arsitekturalnya.
Wakil Ketua Fraksi NasDem, Martin Manurung, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utaraโdaerah kelahiran Silabanโserta keluarga almarhum untuk mematangkan rencana tersebut. "Kami melakukan diskusi dan menyatukan persepsi untuk memulai rangkaian pengusulan Bapak Friedrich Silaban menjadi pahlawan nasional," ujarnya di kompleks parlemen, Senin (13/7).
Menurut Martin, kontribusi Friedrich Silaban tidak terbatas pada Masjid Istiqlal yang menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara. Ia juga merancang kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Monumen Nasional (Monas), dan Gedung Bank Indonesia. "Bagi Fraksi NasDem, bangunan-bangunan itu bukan sekadar struktur fisik, melainkan perwujudan dari gagasan keindonesiaan yang dirumuskan para pendiri bangsa," kata Martin.
Langkah selanjutnya, Fraksi NasDem akan berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Kebudayaan untuk memproses usulan tersebut. Martin menegaskan bahwa usulan ini nantinya akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo sebagai pemegang otoritas tertinggi penganugerahan gelar pahlawan. "Tentu usulannya ke Presiden. Nanti kami akan usulkan ke Pak Presiden," jelasnya.
Putra Friedrich Silaban, Panogu Silaban, menyambut baik inisiatif ini. Ia mengaku bangga dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan kepada almarhum ayahnya. "Ini suatu kehormatan besar bagi keluarga kami," ucapnya dengan haru.
Friedrich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen Protestan, menorehkan sejarah dengan memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal yang digagas Presiden Soekarno pada 1955. Kemenangannya di tengah dominasi arsitek Muslim kala itu menunjukkan bahwa karya tidak mengenal batas agama. Desainnya yang monumental tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga diakui dunia sebagai mahakarya arsitektur modern.
Pengusulan ini membuka diskusi tentang kriteria kepahlawanan di Indonesia. Apakah kontribusi di bidang arsitektur dan kebudayaan layak disejajarkan dengan jasa di bidang politik atau militer? Dengan semakin besarnya apresiasi terhadap tokoh-tokoh non-konvensional, langkah NasDem ini bisa menjadi preseden baru dalam penetapan pahlawan nasional ke depan.



