Gagal Lolos Tes Medis Inter Milan, Anan Khalaili Berserah Diri pada Quran
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Arab-Israel Anan Khalaili batal bergabung Inter Milan setelah tes kardiovaskular CONI mendeteksi kelainan.
- Khalaili merespons dengan unggahan Instagram Stories berisi ayat Al-Quran, menyerahkan nasibnya pada kehendak Tuhan.
- Kasus ini kembali menyoroti ketatnya regulasi medis olahraga di Italia yang pernah memaksa Eriksen dan Bove hengkang.

Mimpi Anan Khalaili berseragam Inter Milan sirna setelah tes kesehatan yang digelar Komite Olimpiade Italia (CONI) menemukan ketidakberesan pada jantung pemain sayap berusia 23 tahun itu. Transfer senilai โฌ30 juta dari Union Saint-Gilloise pun batal, dan sang pemain kini harus kembali ke klub Belgia untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Khalaili telah berada di Italia sejak pekan lalu menjalani serangkaian tes, termasuk uji beban jantung yang merupakan standar wajib bagi setiap atlet asing yang ingin bermain di Serie A. Hasilnya menunjukkan adanya kelainan yang membuat CONI tidak memberikan izin kerja. Menurut aturan Italia, setiap pemain harus mendapatkan sertifikat kesehatan dari CONI yang ketentuannya jauh lebih ketat dibandingkan negara lain.
Dalam situasi penuh tekanan ini, Khalaili memilih merespons dengan cara spiritual. Melalui akun Instagram Stories-nya, ia mengunggah foto dirinya sedang berdoa disertai potongan ayat Al-Quran: โBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu.โ Ayat tersebut menekankan bahwa Allah Maha Mengetahui, sementara manusia tidak. Khalaili seolah menyerahkan sepenuhnya rencana hidup dan kariernya pada kehendak Yang Maha Kuasa.
Ketatnya regulasi medis di Italia bukanlah hal baru. Sebelumnya, gelandang Christian Eriksen harus meninggalkan Inter Milan pada 2021 setelah mengalami henti jantung di lapangan saat Euro 2020. Ia dilarang bermain di Italia karena menggunakan alat pacu jantung implan (defibrillator). Aturan serupa juga memaksa Edoardo Bove, pemain muda AS Roma, pindah ke Fiorentina pada 2024 setelah alat serupa dipasang di tubuhnya. Liga-liga lain seperti Inggris dan Denmark mengizinkan pemain dengan defibrillator, tetapi Italia tidak.
Bagi Khalaili, langkah selanjutnya adalah kembali ke Union Saint-Gilloise untuk menjalani pemeriksaan lebih mendalam guna menentukan apakah kelainan yang terdeteksi bisa diobati atau memerlukan investigasi lebih lanjut. Jika ternyata memerlukan alat implan, maka kariernya di Italia sepertinya harus berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Kasus ini menjadi pengingat betapa ketatnya standar kesehatan di sepak bola Italiaโsebuah negeri yang tidak mau ambil risiko terhadap keselamatan pemain. Namun, di sisi lain, aturan ini juga bisa menjadi batu sandungan bagi talenta muda yang bercita-cita bermain di Serie A. Pertanyaan besarnya: mampukah Khalaili menemukan jalan lain untuk tetap bermain di level tertinggi, ataukah ini akhir dari mimpinya berlaga di Eropa?



