Kalah di Final Junior Wimbledon, Cruz Hewitt Bidik Debut Australian Open
Baca dalam 60 detik
- Cruz Hewitt, putra legenda tenis Lleyton Hewitt, harus mengakui keunggulan Jordan Lee di final tunggal putra junior Wimbledon.
- Remaja 17 tahun itu menargetkan tampil di babak utama Australian Open sebagai langkah berikutnya dalam karier profesionalnya.
- Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Hewitt muda yang tumbuh besar di lingkungan turnamen Grand Slam.

Putra legenda tenis Australia Lleyton Hewitt, Cruz Hewitt, harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan petenis Amerika Serikat Jordan Lee di final tunggal putra junior Wimbledon, Minggu (13/7). Kekalahan ini justru memicu ambisi barunya: menembus babak utama Australian Open dalam waktu dekat.
Bertanding di All England Club, Hewitt yang baru berusia 17 tahun kalah dengan skor 4-6, 6-4, 7-5 dari Lee dalam pertandingan yang berlangsung ketat. Ia nyaris mengulang prestasi Luke Saville yang menjadi juara junior Wimbledon pada 2011, namun langkahnya terhenti di partai puncak.
โSaya merasa sudah bermain cukup baik dan ini pertarungan yang luar biasa. Jordan tampil lebih baik dan layak menang,โ ujar Hewitt seusai laga. โSaya kecewa, tapi bangga bisa mencapai final. Saya tumbuh besar di sekitar turnamen ini dan pernah melihat ayah bermain di sini. Sungguh suatu kehormatan.โ
Ambisi Hewitt muda tak berhenti di level junior. Ia secara gamblang menyebut Australian Open sebagai target utama. โItu mimpi saya. Target besar saya adalah bisa bermain di babak utama. Saya juga berharap bisa kembali ke sini (Wimbledon) suatu hari nanti sebagai pemain dewasa,โ katanya.
Perjalanan Hewitt di turnamen junior Wimbledon menunjukkan potensi besar. Ia mampu melewati beberapa unggulan sebelum akhirnya takluk di final. Gaya bermainnya yang agresif dan mental bertarung dianggap mirip dengan sang ayah, yang pernah menjadi petenis nomor satu dunia.
Bagi publik tenis Indonesia, kisah Cruz Hewitt bisa menjadi inspirasi. Meski berasal dari negara dengan tradisi tenis kuat, perjuangan menembus Grand Slam tetap penuh tantangan. Apalagi, Indonesia sendiri masih menanti petenis yang bisa bersaing di level junior Grand Slam. Keberhasilan Hewitt mencapai final junior Wimbledon setidaknya menunjukkan bahwa kerja keras dan dukungan keluarga bisa membuahkan hasil.
Langkah Hewitt selanjutnya akan dinantikan, terutama apakah ia bisa mengikuti jejak sang ayah yang sukses di pentas senior. Dengan usia yang masih muda, ia memiliki waktu untuk mengasah kemampuan dan mengumpulkan pengalaman. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mewujudkan target tampil di Australian Open dan suatu hari menjadi juara Grand Slam seperti Lleyton?



