Brendon McCullum Akui Kegagalan Usai Dipecat sebagai Pelatih Tes Inggris
Baca dalam 60 detik
- Brendon McCullum resmi dipecat dari jabatan pelatih tim Tes Inggris setelah rentetan hasil buruk, termasuk 7 kekalahan dalam 9 laga terakhir.
- McCullum tetap menangani tim putih (ODI dan T20) hingga Piala Dunia 2027, namun era Bazball dianggap runtuh setelah kekalahan dari Australia dan Selandia Baru.
- ECB kini mencari pelatih Tes baru, dengan kandidat seperti Andy Flower dan Stephen Fleming, sementara kapten baru kemungkinan akan dipisah per format.

Brendon McCullum menyampaikan permintaan maaf atas serangkaian hasil mengecewakan yang akhirnya membuatnya kehilangan posisi sebagai pelatih tim Tes Inggris. Keputusan pemecatan itu diumumkan pada Minggu (28/9) setelah timnas Inggris hanya mampu meraih dua kemenangan dalam sembilan pertandingan terakhir di format tertua kriket tersebut.
Dalam empat tahun masa kepemimpinannya, Inggris tak sekalipun memenangi seri lima pertandingan melawan Australia atau Indiaโdua lawan yang disebut McCullum sebagai "seri andalan". Catatan keseluruhan menunjukkan 19 kekalahan dari 38 laga Tes, sebuah angka yang sulit diterima oleh para penggemar dan pengurus England and Wales Cricket Board (ECB).
"Ini bisnis hasil. Sayangnya, kami tidak mampu meraih hasil yang diinginkan, dan untuk itu saya minta maaf," ujar McCullum kepada BBC Sport. Ia mengakui bahwa kegagalan di seri marquee menjadi faktor utama keputusan ini. "Kami mencapai beberapa hal baik selama empat tahun, tetapi pada akhirnya hasil tidak sesuai harapan."
Pemecatan McCullum terjadi hanya dua pekan setelah kapten Ben Stokes secara mendadak mengumumkan pensiun dari kriket internasional. Keduanya merupakan arsitek utama era "Bazball" yang sempat merevolusi permainan Inggris dengan pendekatan agresif. Namun, kehancuran dimulai sejak kekalahan 4-1 dalam Ashes di Australia, meski saat itu McCullum, Stokes, dan direktur kriket Rob Key masih dipertahankan.
Kekalahan 2-1 dari Selandia Baru di kandang sendiri menjadi pukulan terakhir. Stokes memilih mundur lebih dulu, disusul McCullum. Key, yang mendapat dukungan penuh dari CEO ECB Richard Gould, tetap bertahan dan kini bertugas mencari pelatih Tes baru.
McCullum menerima tanggung jawab penuh atas hasil di lapangan maupun masalah di luar lapangan yang mewarnai masa akhir kepemimpinannya. Beberapa pemain seperti Harry Brook, Jacob Bethell, Josh Tongue, dan Ben Duckett terlibat insiden larut malam. Lebih parah lagi, Stokes dan Gus Atkinson kedapatan melanggar jam malam tim saat seorang anggota staf keamanan dipukul oleh pemain rugby Saracens.
"Saya adalah pemimpin grup itu. Saya bertanggung jawab secara budaya, taktis, dan hasil. Jika hasil tidak tercapai, pada dasarnya Anda akan diganti. Saya sudah 20 tahun di dunia ini dan paham aturannya," kata McCullum. Ia juga mengaku telah menerima pesan dukungan dari Stokes setelah pemecatan. "Ada sesuatu yang romantis tentang Stokesy dan saya pergi bersama. Kami memulainya bersama dan berakhir bersama."
ECB kini bergerak cepat mencari pelatih Tes baru. Gould mengindikasikan bahwa kapten baru kemungkinan akan dipisah per format, mengingat beban jadwal yang padat. Harry Brook, yang kini menjadi kapten tim putih dan wakil kapten Tes, dianggap belum siap memimpin semua format. Namun, McCullum memuji kemampuan taktis Brook dan berharap bisa terus bekerja sama dengannya. "Dia punya salah satu otak taktis terbaik yang pernah saya lihat pada usia semuda itu," puji McCullum.
Kandidat pelatih Tes yang disebutkan antara lain Andy Flower, Stephen Fleming yang baru saja meninggalkan Chennai Super Kings, Jonathan Trott yang berpengalaman bersama Afghanistan, dan Richard Dawson dari Glamorgan. McCullum berjanji akan bekerja sama dengan pelatih baru demi harmoni ketiga tim Inggris. "Kami hanya perlu melakukan yang terbaik untuk kriket Inggris. Itu motivasi nomor satu," tegasnya.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, kisruh ini menunjukkan betapa ketatnya standar di level tertinggi. Inggris, yang pernah menjadi kiblat permainan, kini harus memulai lagi dari awal. Pertanyaan besarnya: mampukah ECB menemukan sosok yang bisa mengembalikan kejayaan tim Tes, atau justru era putih yang akan menjadi prioritas?



