Tito Bantah Isu Jembatan Enang-Enang Diabaikan: Beda Pandangan Soal Keselamatan
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian mengklarifikasi bahwa Jembatan Enang-Enang di Aceh tidak diabaikan, melainkan terjadi perbedaan pendapat antara Balai PU dan warga soal keamanan.
- Pemerintah sepakat mempertahankan jembatan lama dengan penguatan struktur sebagai solusi sementara, serta membangun jembatan baru yang lebih kokoh mulai Juli 2026.
- Isu pembangunan jembatan mandiri oleh warga diluruskan: yang terjadi adalah pembuatan akses darurat di tanah ambles, bukan konstruksi baru.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian membantah tudingan bahwa pemerintah abai terhadap akses Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang rusak akibat banjir bandang. Dalam klarifikasinya, Tito menegaskan bahwa persoalan yang muncul bukan karena kurangnya perhatian negara, melainkan perbedaan pandangan antara aparat teknis dan masyarakat soal kelayakan jembatan tersebut untuk digunakan.
Setelah meninjau langsung lokasi dan berdialog dengan warga, Tito yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menemukan bahwa struktur jembatan lama sebenarnya tidak hancur saat diterjang banjir. Kerusakan terjadi pada tanah penyangga yang ambles, menyebabkan jembatan miring dan berisiko tinggi bagi pengguna. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh dari Kementerian Pekerjaan Umum telah lebih dulu turun tangan, namun menilai kondisi tanah masih labil dan membahayakan.
Perbedaan pendapat memuncak ketika Balai PU meminta warga menggunakan jalan alternatif yang lebih aman. Warga menolak karena jalur tersebut memutar jauh dan berlubang. Mereka kemudian membuat akses sementara di bagian yang ambles agar kendaraan tetap bisa lewat. Tito meluruskan bahwa tindakan itu bukan membangun jembatan baru, melainkan upaya darurat warga yang ingin mobilitasnya tidak terhambat.
Melalui mediasi Satgas PRR, dicapai kesepakatan bahwa jembatan lama akan dipertahankan dengan penguatan struktur sebagai solusi sementara. Namun, hanya kendaraan roda dua dan kendaraan ringan yang diizinkan melintas. "Intinya jembatan ini sulit dikembalikan normal lagi, berat sekali," ujar Tito saat menerima bantuan ambulans dari Korpri di Jakarta, Senin (13/7). Pemerintah juga berkomitmen memperbaiki jalur alternatif dan membangun jembatan pendukung.
Klarifikasi ini penting mengingat sempat beredar informasi bahwa warga membangun jembatan secara mandiri karena pemerintah tidak peduli. Tito menegaskan, "Bukan pemerintah tidak memperhatikan, tidak, beda pendapat antara Balai PU dengan masyarakat." Ke depan, pengawasan terhadap infrastruktur pascabencana perlu diperketat agar komunikasi antara aparat dan warga tidak menimbulkan kesalahpahaman serupa.



