S&P Pertahankan Peringkat BBB, Saham Bank Jumbo Melesat Dorong IHSG
Baca dalam 60 detik
- S&P Global Ratings mengonfirmasi peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil, membantah spekulasi penurunan peringkat.
- Saham BMRI, BBRI, dan BBNI masing-masing naik 4,17%, 2,87%, dan 3,22%, menjadi motor penguatan IHSG sebesar 1,92%.
- Keputusan S&P didasarkan pada keyakinan tekanan fiskal dan eksternal bersifat sementara, didukung perbaikan komoditas dan reformasi tata kelola SDA.

Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil langsung disambut positif pasar modal. Pada perdagangan Senin (13/7/2026), saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi motor utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mencatatkan kenaikan signifikan dan membalikkan kekhawatiran yang sempat melanda investor.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin reli dengan lonjakan 4,17% ke level 4.250, memberikan kontribusi 13,88 poin terhadap IHSG. Disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang naik 3,22% ke 3.530, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 2,87% ke 2.870. Secara keseluruhan, IHSG ditutup menguat 1,92% ke posisi 6.037,84, dengan empat saham bank besar menyumbang lebih dari 33 poin.
Katalis utama penguatan ini adalah pengumuman S&P Global Ratings yang dirilis hari yang sama. Lembaga pemeringkat internasional itu menegaskan peringkat jangka panjang Indonesia di BBB dan jangka pendek di A-2, dengan outlook stabil. Keputusan ini membantah rumor pasar yang sebelumnya mengindikasikan potensi penurunan outlook akibat tekanan fiskal dan eksternal.
Dalam laporannya, S&P mengakui bahwa posisi fiskal dan eksternal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, serta akumulasi utang. Namun, lembaga tersebut menilai tekanan ini bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan. Perbaikan harga komoditas dan langkah pemerintah mengendalikan belanja dinilai dapat memperkuat kembali fundamental ekonomi.
S&P juga menyoroti upaya pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor sumber daya alam dan mineral. Menurut S&P, langkah memusatkan pengelolaan dan mengurangi kebocoran di sektor tersebut berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor dalam jangka panjang. Prospek stabil juga mencerminkan harapan bahwa pemerintah akan tetap menjadikan batas defisit tahunan 3% sebagai jangkar kebijakan fiskal.
Bagi investor di Indonesia, keputusan S&P memberikan sinyal bahwa risiko kredit negara masih terkendali, sehingga aset berdenominasi rupiah, terutama saham perbankan, tetap menarik. Kenaikan saham bank jumbo tidak hanya mendorong IHSG, tetapi juga memperkuat kepercayaan terhadap sektor keuangan yang menjadi tulang punggung perekonomian. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah reli ini dapat berlanjut mengingat tekanan eksternal masih membayangi, seperti kebijakan suku bunga The Fed dan volatilitas pasar global.



