Dana IPO Mengendap Tujuh Tahun, Emiten Hotel NATO Alihkan Rp120 M ke Akuisisi Tambang
Baca dalam 60 detik
- PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) masih menyimpan 63,86% dana IPO senilai Rp127,72 miliar di rekening bank sejak 2019 tanpa realisasi investasi pariwisata.
- Perubahan pengendali pada Desember 2025 mengubah arah penggunaan dana: dari pembangunan resort di Rote dan Selayar menjadi modal akuisisi perusahaan tambang melalui anak usaha di Singapura.
- Manajemen menargetkan seluruh dana IPO terserap pada 2026, namun investor perlu mencermati risiko perubahan strategi bisnis yang fundamental.

Lebih dari separuh dana segar yang diperoleh PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) dari penawaran umum perdana (IPO) pada 2019 masih mengendap di bank tanpa kejelasan proyek. Perusahaan yang bergerak di sektor perhotelan itu tercatat baru memanfaatkan 36 persen dari total Rp206 miliar yang diraup saat melantai di Bursa Efek Indonesia, sementara sisanyaโRp127,72 miliarโmenganggur di rekening giro Bank CIMB Niaga dengan bunga 1,5 persen per tahun sejak 14 Januari 2019.
Fenomena dana IPO yang tidak kunjung terserap ini menjadi sorotan di tengah perubahan kepemilikan saham mayoritas NATO pada akhir 2025. PT Mercury Strategic Indonesia resmi menjadi pengendali baru setelah membeli 2,15 miliar lembar saham (26,87 persen) dari PT Karunia Berkah Jayasejahtera melalui transaksi pasar negosiasi pada 12 Desember 2025. Pergantian kendali ini langsung mengubah peta jalan penggunaan dana IPO yang sebelumnya dijanjikan untuk pembangunan resort di kawasan wisata terpencil.
Dalam prospektus awal, emiten yang dulu bernama Surya Permata Andalan itu berencana mengalokasikan Rp120 miliar untuk penyertaan modal ke anak usaha, PT Nusantara Mandala Prima (NMP). Dana tersebut kemudian akan disalurkan sebagai pinjaman kepada PT Mitra Graha Tangguhperkasa (MGT) untuk membangun Surfer Paradise Resort di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, senilai Rp60 miliar. Sisanya dipakai untuk proyek Takabonerate Resort di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, melalui PT Citra Multi Jaya (CMJ).
Manajemen NATO sebelumnya beralasan bahwa sikap konservatif diambil karena industri pariwisata masih lesu dan infrastruktur di lokasi proyek belum memadai. Langkah ini disebut untuk menghindari risiko rendahnya tingkat pengembalian investasi (ROI). Namun, setelah akuisisi oleh Mercury Strategic, sisa dana Rp120 miliar yang semula diperuntukkan bagi proyek resort kini akan dialihkan ke Quantum Strategic Investments Pte Ltd, anak usaha di Singapura, untuk mengakuisisi perusahaan tambang. Perubahan haluan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan investor mengenai konsistensi rencana bisnis perseroan.
Bagi pelaku pasar modal Indonesia, kasus NATO menjadi pengingat bahwa dana IPO yang mengendap dalam jangka panjang dapat menjadi sinyal lemahnya tata kelola atau perubahan strategi yang mendadak. Otoritas bursa dan OJK biasanya mencermati emiten yang gagal merealisasikan penggunaan dana publik sesuai prospektus, apalagi jika disertai pergantian pengendali yang mengubah arah bisnis secara drastis. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari manajemen baru mengenai detail target akuisisi tambang yang dimaksud.
Manajemen NATO dalam keterbukaan informasi menyatakan bahwa target realisasi seluruh dana IPO adalah tahun 2026. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah dana yang sudah tujuh tahun mengendap itu benar-benar terserap, atau justru menjadi cerita lain tentang dana publik yang mandek di tengah perubahan wajah pemilik?



